Tips Menjadi Karyawan sambil Berbisnis atau Usaha Sampingan

By |

Mungkin sebagian orang menganggap menjadi karyawan perusahaan itu sebuah kebanggaan, apalagi apabila bekerja di perusahaan pemerintah atau PNS. Hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain gaji yang relatif tetap, diberikan tunjangan, karir, kebanggaan atau Prestige. Dan karena dengan bekerja di perusahaan sebagai karyawan, sebagian orang bisa merasa tenang dalam hal finansial sebab ada pemasukan yang relatif tetap nominalnya setiap bulan.

 

 

Sedangkan sebagian lagi menganggap bahwa memiliki usaha sendiri itu lebih enak karena bisa mengatur waktu sendiri, menentukan pendapatannya sendiri. Bahkan tidak sedikit karyawan yang mungkin merasa bahwa pekerjaannya tidak menjanjikan kesejahteraan yang meningkat alias begitu begitu saja, berpikiran bahwa usaha itu jauh lebih menjanjikan dalam segi finansial.

Dari pengalaman penulis sendiri, menjadi karyawan sebuah perusahaan ada sisi suka dan juga dukanya. Segi sukanya atau positifnya memang kita mendapat gaji dengan nominal tetap setiap bulannya. Hal ini secara langsung akan mempermudah kita untuk merencanakan keuangan seperti tabungan, uang saku, transportasi, uang hiburan dan untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan lainnya. Selain itu sebagai karyawan kita merasa lebih bangga karena bekerja di kantor, sesuai keinginan kebanyakan wisudawan berbagai kampus.

Dan sisi positif yang lain selain segi finansial adalah kita bisa mendapat banyak ilmu tentang praktek dunia kerja lebih banyak dari yang pernah kita pelajari di bangku sekolah ataupun kuliah. Karena menurut saya, ilmu yang kita dapat dari sekolah ataupun kuliah itu hanya 30% yang dapat kita serap dan terapkan di dunia kerja. Kemudian dimana kita mendapat ilmu yang 70% sisanya? Akan kita dapatkan ketika kita sudah masuk dan terlibat secara langsung dalam dunia kerja apapun bidangnya.

Setelah saya ceritakan bagian manisnya dari menjadi seorang karyawan, rasanya tidak relevan jika tidak saya sampaikan juga beberapa hal kekurangan menjadi karyawan. Antara lain, jika perusahaan tempat kita bekerja bukan perusahaan skala besar, atau baru skala lokal maka pendapatan dan karir kita cenderung akan tidak berkembang. Secara finansial, memang kita mendapat gaji yang tetap setiap bulan dengan nominal sama, tetapi kenaikan gajinya sangat jarang terjadi, kecuali memang ada peraturan pemerintah tentang perubahan nominal Upah Minimum entah itu setingkat propinsi (UMP), ataupun kabupaten/kota (UMK).

Begitupun juga dalam hal karir, jika bukan perusahaan skala besar maka kenaikan karir juga susah didapatkan. Jika adapun hanya karena senioritas dan terkadang bukan karena prestasi. Ketika kenaikan jabatan atau karir itu hanya didasarkan dari senioritas semata dan karena dinilai loyal serta berpengalaman, maka hal ini secara tidak langsung akan membentuk suatu budaya dimana karyawan lain yang sebenarnya mempunyai potensi untuk berprestasi akan bekerja secara tidak maksimal. Dan dampak secara tidak langsung jika budaya ini bertumbuh di suatu iklim kerja, maka perusahaan akan cenderung stagnant dan susah untuk menerima apalagi menyesuaikan diri terhadap perubahan.

Tetapi jika perusahaan tempat Anda bekerja memang perusahaan yang bisa dikatakan bonavit dan skala besar, kemungkinan untuk kenaikan karir dan gaji memang lebih besar. Tentunya dengan sistem penilaian kerja yang ketat, karena perusahaan besar akan lebih ketat dalam menilai performa kerja yang berkaitan langsung dengan kemajuan perusahaan.

Meskipun menjadi karyawan di perusahaan besar, beberapa orang masih berpikir bahwa memiliki usaha sendiri jauh lebih nyaman karena satu dan lain hal. Beberapa orang lagi memilih bekerja sebagai karyawan dan juga menjalankan usaha.

Nah selanjutnya kita akan bahas apa saja yang perlu kita perhatikan dan persiapkan ketika ingin memulai usaha saat masih menjadi karyawan.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi karyawan sekaligus usahawan menurut pengalaman penulis :

 

Tips Berbisnis atau Usaha Sampingan Bagi Karyawan

 

  1. Jangan Tergesa-gesa

Memang ada kata bijak yang mengatakan bahwa usaha yang baik adalah usaha yang dijalankan, bukan yang direncanakan terus menerus (tanpa aksi). Tetapi langsung menjalankan usaha tanpa adanya perhitungan dan rencana yang matang juga terkesan terburu-buru. Hal ini justru dapat menimbulkan kerugian yang tidak bisa diprediksi juga. Jadi sebelum memulai usaha, pertimbangkan secara matang jenis usaha Anda, rencana pemasaran, manajemen resiko, dan lain-lain. Tetapi jangan juga terlalu banyak pertimbangan, karena akan menghabiskan waktu Anda dan usahanya tidak akan pernah berjalan.

  1. Pilihlah Usaha Berdasar Kemampuan, Bukan Laba Semata

 Hal yang perlu di perhatikan juga ketika ingin memulai usaha adalah jenis usaha apa yang akan Anda jalankan. Dalam menentukan bidang usaha apa yang akan Anda jalankan bisa dengan beberapa cara. Salah satu cara menurut penulis adalah awali dari hobi Anda. Kenali hobi Anda atau kegemaran Anda. Banyak usaha yang berawal dari hobi dan berhasil, karena mereka merasa melakukannya dengan sepenuh hati (karena memang hobinya).

Dengan menjalankan usaha dari hobi relatif akan lebih mudah apalagi jika Anda menguasai lagi tentang produk yang menjadi hobi Anda. Contohnya ada salah satu kawan penulis memiliki usaha rental PlayStation dan jual beli segala sesuatu tentang game karena memang hobinya adalah bermain game.

Usahakan jangan menentukan usaha berdasarkan karena tergiur dengan laba yang menjanjikan. Prinsip usaha itu adalah berkesinambungan, artinya lebih baik laba yang tidak terlalu besar tetapi rutin terus menerus. Pun dalam bisnis ada juga yang dinamakan “Psikologi bisnis”. Jadi, pada dasarnya dalam segala sesuatu kita tidak boleh terlalu serakah untuk mendapat keuntungan yang besar. Ingat sobat, rejeki sudah diatur oleh Tuhan.

  1. Disiplin Mengatur Pengeluaran dari Gaji

Karena usaha itu tetap membutuhkan modal, sekecil apapun itu, sebagai karyawan, alangkah baiknya jika kita mengatur (menyisihkan) pengeluaran gaji agar bisa untuk menunjang modal untuk usaha. Kecuali jika kita mau lebih sabar merintis usaha dalam artian kita mencari tambahan dengan menjadi makelar atau reseller terlebih dahulu untuk mengumpulkan modal.

Nah ada sedikit tips mengatur pengeluaran dari gaji berdasarkan pengalaman yang pernah penulis alami.

  • Pertama adalah siapkan amplop sejumlah hari kerja setelah menerima gaji. Lalu masukkan ke masing-masing amplop uang dari gaji sebesar nominal untuk makan/hari dan bensin/hari. Dengan begitu, uang akomodasi untuk ke kantor aman.
  • Kedua dengan menentukan besaran uang untuk entertain (untuk keperluan kumpul dengan teman atau untuk refreshing). Bagaimanapun juga Anda tetap membutuhkan dana untuk refreshing.
  • Ketiga sisihkan juga untuk tabungan.
  • Keempat tentukan besaran untuk mengumpulkan modal yang dibutuhkan. Dalam menentukan target modalnya, Anda perlu merinci kebutuhan awal yang Anda butuhkan. Seperti peralatan apa saja yang dibutuhkan dan harus dibeli. Jika Anda ingin usaha dibidang kuliner, hitung juga anggaran modal untuk bahan baku awal. Setelah terperinci kebutuhan modal awal, maka kita bisa tentukan besaran nominal per bulan yang akan kita sisihkan dari gaji.

Dengan kita bagi gaji bulanan kita menjadi pos-pos tertentu, akan lebih cepat kita mengumpulkan modal untuk menjalankan usaha idaman kita. Kuncinya adalah disiplin dan berhemat.

Nah itu beberapa hal yang perlu diperhatikan saat Anda ingin bekerja sambil menjalankan usaha sampingan.

Semoga bermanfaat dan selalu optimis kawan. Setiap ada niat dan doa, pasti ada jalan, setiap ada kemauan Insya Allah akan sampai pada keberhasilan.

(Rio Dewangga)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *