Investasi Syariah Pengertian, Cara, dan Tips Berinvestasi Bagi Pemula

  • Whatsapp

Saat ini semakin banyak masyarakat yang sadar untuk berinvestasi. Investasi bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang asing, bahkan bagi sebagian orang sudah dimasukkan sebagai kebutuhannya.

Investasi lebih dari sekedar tabungan karena akan bermanfaat untuk jangka panjang. Masyarakat kita mengenal dua jenis sistem investasi, yaitu konvensional dan syariah.

Cara-Investasi-Syariah

Investasi syariah kini kian dilirik karena beberapa hal. Bagi yang belum familiar dengan investasi ini, cari tahu lebih lanjut tentang cara berinvestasi untuk pemulanya di sini.

Jika dibandingkan dari segi keuntungan, sebenarnya investasi syariah pun cukup menjanjikan. Bahkan tak sedikit yang memberikan untung di luar bayangan sebelumnya.

Sebab yang namanya berinvestasi itu tergantung bagaimana seseorang mengatur resiko, update dengan kondisi keuangan global, serta melihat peluang.

Maka, tulisan yang akan membahas tentang cara berinvestasi ini bisa dijadikan referensi bagi yang baru mengenal investasi, khususnya yang model syariah.

Apa Itu Investasi Syariah?

Untuk mengawali diskusi kali ini, sebaiknya dimulai dengan memahami apa itu investasi Syariah. 

Sesuai dengan namanya, maka investasi ini dijalankan dengan prinsip Syariah, yaitu menganut hukum-hukum Islam dalam pelaksanaannya. Modal yang ditanam bertujuan untuk memperoleh keuntungan tapi melalui cara yang halal melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Halal

Prinsip pertama pada investasi syariah ini adalah prinsip yang paling mendasar bagi umat Muslim, yaitu kehalalan.

Segala sesuatu yang dijalankan dan dikonsumsi harus halal, yakni tidak mengandung unsur babi, alkohol, prostitusi, dan sebagainya. Intinya, segala hal yang haram pasti bertentangan dengan prinsip halal dalam Islam.

Maka modal yang diinvestasikan pun tidak boleh mengandung unsur riba, judi, suap, dan sejenisnya.

2. Bebas Riba

Riba pun menjadi salah satu fokus saat membicarakan investasi syariah.

Karena terkadang tak disadari bahwa bidang investasinya tergolong halal namun di dalamnya masih mengandung praktik riba. Riba erat hubungannya dengan bunga dari hasil keuntungan berinvestasi.

Bunga ini tidak hanya bunga bank saja, namun keuntungan apa pun yang dijanjikan tanpa menanggung resiko kedua belah pihak.

Prinsip bebas riba sebenarnya menguntungkan kedua belah pihak. Sebab, jika usaha berjalan untung maka akan sama-sama untung.

Sedangkan, jika sedang rugi, pengusaha tidak perlu membayar kepada investor atau besarannya disesuaikan dengan kesepakatan awal.

Ini menghindari potensi ketidakadilan, baik bagi pengusaha maupun investor. Ditambah praktik riba ini sangat kuat diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist.

3. Tidak Ada Grahar dan Masyir

Grahar adalah sikap menutup-nutupi, artinya investasi Syariah harus bersifat terbuka antara kedua belah pihak, terutama dalam masalah penyaluran modal.

Dana harus jelas dipakai untuk kegiatan apa atau dipakai untuk membeli apa.

Transparansi ini berkaitan dengan prinsip sebelumnya, yaitu keadilan. Apabila salah satu pihak tidak setuju, maka investasi yang dijalankan sudah keluar dari prinsip Syariah.

Sedangkan masyir sendiri adalah mendapatkan sesatu tanpa adanya usaha. Sikap spekulasi atau menebak-nebak termasuk dalam contoh masyir.

Karena ini tergolong dalam aktivitas judi, yakni mendapatkan sesuatu dari yang kalah untuk yang menang lewat aktivitas menebak-nebak.

Dalam Investasi syariah dalam berinvestasi pun harus memperhatikan cara memperoleh keuntungannya.

Dulu orang-orang menganggap investasi Syariah hanya bagi umat Muslim saja. Namun sebenarnya investasi ini tidak dikhususkan bagi umat Muslim, siapa pun boleh berinvestasi secara Syariah asalkan setuju dengan prinsip-prinsip pelaksanaannya.

Kini dengan keterbukaan informasi dan semakin open-minded-nya para investor, investasi Syariah mulai dilirik dan banyak digemari, termasuk oleh anak-anak muda.

Perbedaan Investasi Syariah dan Konvensional

Di atas, saat awal diskusi investasi syariah, telah disebutkan bahwa ada dua jenis investasi, yaitu konvensional dan Syariah.

Beberapa orang telah mengetahui perbedaannya, namun buat yang belum tahu tidak usah bingung. Di bawah ini ada sejumlah perbandingan antara investasi konvensional dan Syariah:

1. Badan Pengawas

Investasi yang saat ini umum dilakukan oleh banyak orang adalah investasi konvensional. Kegiatan investasi mereka diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sedangkan untuk investasi yang bersifat Syariah badan pengawasnya adalah Majelis Ulama Indonesia lewat dewannya yang bernama Dewan Syariah Nasional dan Dewan Pengawas Syariah.

Kedua badan ini resmi dan legal untuk mengawasi kegiatan investasi di ranahnya masing-masing tanpa tumpang tindih.

2. Melalui Akad

Membahas investasi syariah pengertian, cara, dan tips berinvestasi tidak akan terlepas dari hukum-hukum Islam, salah satunya adalah akad. Akad dalam berinvestasi Syariah merupakan tahap yang tidak boleh dilewati.

Jika tidak melakukan akad, maka sama saja dengan investasi konvensional. Akad merupakan kesepakatan yang dilakukan di awal, yaitu kerja sama (musyarakah), sewa-menyewa (ijarah), serta bagi hasil (mudharabah). Mungkin prosesnya tidak sesimpel produk konvensional, namun ini adalah bentuk transparansi antara kedua belah pihak.

3. Tujuan Investasi

Setiap orang yang berinvestasi memang ingin mendapatkan keuntungan. Namun jika telah memutuskan untuk berinvetasi Syariah, maka keuntungan bukanlah satu-satunya yang dikejar.

Tujuan utama orang-orang yang berinvestasi Syariah adalah memberikan manfaat untuk sesama. Karena sesuai dengan ajaran Islam yakni sebaik-baiknya manusia adalah seseorang yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Oleh sebab itu, selain return, dalam membahas investasi syariah pengertian, cara, dan tips berinvestasi dikenal juga dengan Socially Responsible Investment (SRI).

SRI adalah strategi investasi yang mengkombinasikan perolehan untung (return) sebesar-besarnya melalui kebajikan sosial, yakni aktivitas-aktivitas yang selalu memiliki unsur ibadah dan sedekah.

Berbanding terbalik dengan investasi konvensional yang berfokus pada keuntungan tinggi dan kemajian ekonomi, namun mengenyampingkan manfaat sosial bagi masyarakat.

4. Instrumen Investasi

Dalam pembahasan investasi syariah kali ini akan diberi tahu juga perbedaan instrumen investasi konvensional dan Syariah.

Melihat dari pengertian dan prinsip praktiknya, tentu saja instrument investasi akan sangat berbeda. Instrumen investasi yang paling familiar adalah sistem konvensional, yaitu saham, reksa dana, obligasi, warrant, valas, dan lainnya.

Namun untuk instrumen Syariah pun tak kalah banyak. Beberapa yang serupa dengan instrumen konvensional namun dijalankan dengan prinsip Syariah adalah saham, pasar modal, obligasi, dan reksa dana.

Bagi yang tertarik untuk membeli saham Syariah, obligasi, dan reksa dananya, kini tak perlu pusing memilah. Karena telah banyak pihak yang memisahkan instrumen-instrumen Syariah sehingga calon investor tinggal menganalisisnya saja.

5. Jual-Beli Saham

Bagi yang baru akan terjun ke pasar modal, jual-beli saham Syariah sangat direkomendasikan karena jauh dari spekulasi dan manipulasi pasar.

Seluruh saham yang dijual di pasar modal Syariah telah memenuhi syarat-syarat Syariah. Transaksi di sini bebas bunga sehingga keadilan bagi siapa pun, baik untuk si pembeli dan si penjual.

Bedanya dengan pasar modal konvensional adalah transaksi melibatkan pemberian bunga. Adanya bunga membuat transaksi menjadi spekulatif dan manipulatif. Saham beredar dengan bebas tanpa memperhatikan keuntungan dan kerugian si pemilik usaha.

Selain itu, para pelaku pasar modal konvensional tidak memperhatikan status halal atau haram saham yang diperjualbelikan. Inilah menjadi poin penting juga dalam pembahasan investasi syariah bagi siapa pun.

6. Obligasi

Selain berinvestasi di pasar modal, obligasi pun banyak dipilih sebagai instrumen investasi. Obligasi konvensional menganut prinsip bunga dan menempatkan posisi pemegang obligasi sebagai kreditur.

Perkembangan suku bunga sangat berpengaruh di sini. Sedangkan untuk obligasi Syariah telah diatur dalam fatwa DSN – MUI No.7/DSN-MUI/IV/2000.

Aturan yang membahas tentang pembiayaan mudharabah tersebut menempatkan pemegang obligasi sebagai pemodal (shihibul mal), adapun pengelolanya adalah emiten jika pada obligasi konvensional.

Di atas pun dijelaskan sekilas bahwa harus ada kesepakatan antara pemilik modal dan pengelola.

Maka dalam aktivitas investasi obligasi, penggunaan modal akan disebutkan di awal saat akad transaksi dilakukan.

Dari sini pemilik modal tahu apakah uangnya akan dialokasikan sesuai dengan hukum-hukum syariat atau tidak.

Cara Berinvestasi Syariah yang Benar dan Menguntungkan

Sebenarnya tidak ada cara khusus untuk melakukan investasi Syariah, semuanya sama saja dengan investasi konvensional.

Memang ada beberapa hal yang harus diperhatikan, namun itu tidak menjadi kendala yang sulit untuk investasi ini.

Pembahasan selanjutnya pada investasi syariah adalah cara melakukannya, simak poin-poin berikut:

1. Luruskan Niat

Ingat, tujuan dari berinvestasi Syariah adalah memberikan manfaat kepada orang banyak.

Jadi sejak awal luruskan niat untuk menjadi seseorang yang bermanfaat, bukan meraup keuntungan semata.

Sebab jika niat awalnya sudah tidak sesuai dengan prinsip Syariah, maka akan tergoda untuk memilih instrumen dan praktik yang tidak Islami nantinya.

2. Memilih Instrumen yang Sesuai Syariah

Mengetahui investasi syariah akan percuma jika akhirnya menanamkan modal bukan diinstrumen yang Syariah.

Agar tidak salah pilih tempat menanamkan modal, hindari usaha-usaha yang bersinggungan dengan babi, alkohol, penipuan, atau pun rokok. Jika ingin berinvestasi di pasar modal, langsung saja masuk ke pasar modal Syariah.

Ini akan sangat memudahkan dan pasti terhindar dari usaha-usaha yang tidak sesuai syariat. Sebab semua pelaku usaha di pasar modal Syariah sudah sesuai dengan aturan Islam.

3. Pilih Perusahaan Sekuritas yang Tepat

Pembahasan investasi syariah berikutnya akan berkaitan dengan perusahaan sekuritas yang dipilih.

Ada banyak perusahaan sekuritas yang bisa menjadi sarana berinvestasi, namun tidak semuanya memfasilitasi investasi Syariah.

Oleh sebab itu, datangi perusahaan sekuritas terpercaya dan diakui oleh OJK, sekaligus yang menjual saham Syariah.

Jika sudah menemukan perusahaan sekuritas yang tepat dan dipercaya, langsung isi formulir dan mengikuti prosedurnya. Apabila masih merasa ragu, jangan segan untuk bertanya soal investasi Syariah pada mereka.

4. Kenali Bidang Usaha

Apabila berinvestasi dalam pasar modal akan ada banyak bidang usaha di sana. Meski pasar modal Syariah sudah diseleksi, bukan berarti pilihannya tidak variatif.

Oleh sebab itu, agar investasi tetap menguntungkan, kenali bidang usaha yang akan ditekuni. Caranya bisa dengan membaca portofolio perusahaan tersebut, laporan keuangannya, serta isu-isu terkait bidang usahanya.

Selain melihat prinsip kebermanfaatan, hal-hal tadi pun perlu dilakukan karena bagaimana pun jika keuntungan didapat bisa memberikan manfaat yang lebih banyak.

Tips Berinvestasi Syariah Bagi Pemula

Dalam Investasi syariah ada empat cara, dan tips berinvestasi yang menarik untuk dibahas.

Apalagi saat ini investasi menjadi tren di kalangan anak-anak muda, termasuk untuk berinvestasi Syariah. Banyaknya kampanye terkait pentingnya investasi, membuka mata dan pikiran mereka untuk mempersiapkan masa depan.

Namun investasi Syariah menyadarkan mereka bahwa harus menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama juga. Buat para pemula, ini lah tipsnya jika ingin berinvestasi Syariah:

1. Memahami Makna Investasi Syariah

Saat membahas investasi syariah, di atas telah banyak dijelaskan berbagai hal. Dari penjabaran tersebut bisa disimpulkan bagaimana investasi Syariah itu.

Jika masih bingung atau merasa ada yang kurang jelas, maka sebaiknya berdiskusi dengan orang yang berpengalaman berinvestasi Syariah atau ahli di bidang ekonomi Syariah.

Diskusi dengan mereka akan menambah perspektif serta pertimbangan saat memilih instrumen investasi nantinya.

Baca juga: Hal penting yang perlu dilakukan sebelum Investasi

2. Menyisihkan Dana

Hal lain yang perlu dipertimbangkan saat akan berinvestasi adalah dananya. Pastikan sudah memiliki dana yang cukup untuk instrumen yang dipilih.

Jika tidak ada dananya, bagaimana bisa untuk melakukan investasi? Oleh sebab itu, cek dulu keuangan pribadi dan pastikan ada dana yang bisa dipakai untuk berinvestasi.

Beberapa orang mendisiplinkan dirinya untuk berinvestasi dengan cara memisahkan langsung gaji mereka. Namun cara ini belum tentu cocok di semua orang karena kebutuhan masing-masing pribadi berbeda.

Ada yang sedang memprioritaskan membayar hutang, ada pula yang penghasilannya berlebih sehingga bisa dipakai untuk berinvestasi.

Pada dasarnya, artikel investasi syariah ini pun ingin mengingatkan calon investor pemula untuk mengatur keuangannya.

3. Menahan Gaya Hidup

Lebih jauh jika membicarakan pengertian investasi, maka akan berkaitan pula dengan gaya hidup seseorang.

Jika ingin berinvestasi, maka harus bisa menahan gaya hidup. Hindari hidup berfoya-foya atau boros, kemudian uangnya disisihkan untuk berinvestasi.

Tidak banyak pemula yang bisa berinvestasi dan hidup mewah dalam waktu bersamaan. Oleh sebab itu, sebagai pemula sebaiknya menahan diri sejenak agar memiliki dana lebih banyak untuk diinvestasikan.

4. Memilih Instrumen yang Tepat Bagi Pemula

Ada banyak instrumen investasi seperti yang disebutkan di atas, namun hati-hati karena tidak semuanya cocok bagi pemula, kecuali sudah benar-benar paham tentang instrumen tersebut.

Misalnya, investasi saham di pasar modal Syariah, ini perlu usaha khusus, seperti memantau perkembangan pasar, menganalisis perusahaan yang tepat, dan sebagainya.

Beberapa pemula memilih investasi emas sebagai langkah awal. Investasi ini pun banyak dibahas dalam diskusi mengenai investasi syariah.

Emas digolongkan sebagai salah satu bentuk investasi Syariah selama proses mendapatkannya sesuai dengan syariat Islam. Adapun sebagian lainnya memilih investasi dalam bentuk properti.

Namun kepemilikan ini pun harus diperhatikan lokasinya, pemanfaatan properti tersebut, serta dari akad transaksinya.

Dalam Investasi syariah di atas, ada tiga hal tentang prinsip syariah yang harus diperhatikan secara bersamaan. Sebab jika didiskusikan secara terpisah akan terjadi missing link sehingga miskonsepsi pun terbentuk.

Kalau ini terjadi, praktik investasi bisa salah dan jauh dari prinsip Syariah. Tujuan awalnya ingin menerapkan hukum-hukum Islam, jadinya malah tidak sesuai. Oleh sebab itu, tulisan ini berfokus kepada ketiga hal di atas.

Ingat, investasi Syariah tidak mengkhususkan pasarnya bagi umat Muslim saja. Siapa pun yang ingin bermanfaat bagi orang banyak dan ingin mendapatkan keuntungan dari kegiatan sosialnya, maka bisa ikut terjun dalam investasi Syariah ini.

Semoga pengertian dan cara investasi syariah pengertian ini bisa menjadi referensi yang komprehensif bagi pemula maupun pembelajar ekonomi.

Dengan adanya sistem investasi Syariah, setiap orang bisa membantu sesama untuk periode yang lebih panjang dan berkesinambungan.

  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *