Pemanasan Global dan Perubahan Iklim yang Berpengaruh Pada Kehidupan Bumi

By |

Anda pasti pernah mendengar tentang pemanasan global kan? Peristiwa yang juga disebut global warming ini merupakan kejadian yang berjalan sejak dahulu kala dan dapat berpengaruh besar pada kehidupan di Bumi. Seperti namanya, global warming memberikan dampak terhadap perubahan iklim Bumi yang semakin menghangat.

Peristiwa ini sudah dimulai sejak jutaan tahun yang lalu dan keadaannya menjadi lebih parah akhir-akhir ini. Kemajuan peradaban manusia inilah yang menjadi faktor paling dominan dalam mendukung global warming.

Pemanasan Global

Global warming yang tak segera diatasi akan mengancam kehidupan anak cucu kita serta makhluk hidup lainnya di permukaan Bumi. Bahkan perlahan-lahan ekosistem kehidupan tersebut dapat terganggu. Jaman serba industri ini akan memicu gas-gas yang dilepaskan ke udara, sehingga terjadilah global warming sebagai akibat dari efek rumah kaca.

Semua gas-gas berupa karbondioksida, nitrous oksida, methana dan sebagainya terperangkap di atmosfer, lalu menyerap sinar matahari dan pantulan radiasi matahari yang akan membuat iklim di Bumi meningkat.

Apa Itu Pemanasan Global ?

Efek Rumah Kaca Bumi

Suhu Bumi dikendalikan oleh keseimbangan antara masukan dari energi matahari dan pancaran energi matahari kembali ke angkasa.

Terdapat gas atmosfer tertentu yang sangat penting untuk keseimbangan suhu bumi yang dikenal sebagai gas rumah kaca. Energi yang diterima dari matahari berada dalam bentuk radiasi gelombang pendek, contohnya sebagai spektrum yang terlihat dan radiasi ultraviolet.

Tidak seluruh energy yang dipancarkan matahari ke muka bumi diterima oleh bumi. Sekitar sepertiga dari energy gelombang pendek yang masuk ke dalam bumi dipantulkan kembali ke angkasa (luar atmosfer).

Sisanya, sebagian diserap oleh atmosfer dan sebagian besar diserap oleh tanah dan lautan. Sebagai akibatnya, permukaan bumi menjadi hangat dan memancarkan hasil radiasi ‘inframerah’ sebagai gelombang panjang.

Gas rumah kaca menjebak dan memancarkan kembali sebagian dari gelombang panjang radiasi ini, dan menghangatkan atmosfer.

Secara alami gas rumah kaca terdiri dari uap air, karbon dioksida, ozon, metana, dan nitrous oxide, dan bersama-sama mereka menciptakan efek rumah kaca atau selimut, memanaskan Bumi sebesar 35 ° C.

Meskipun gas rumah kaca sering digambarkan dalam diagram sebagai satu lapisan, ini hanya untuk menunjukkan ‘efek selimut’ mereka, karena mereka sebenarnya bercampur di seluruh atmosfer.

Cara lain untuk memahami rumah kaca di alam adalah dengan membandingkan 2 planet terdekat bumi yaitu Mars dan Venus.

Para ilmuwan telah meneliti bahwa iklim planet dipengaruhi oleh beberapa factor utama seperti massa planet, jarak dari matahari serta komposisi atmosfirnya yang beberapa jenis kandungan partikelnya juga merupakan bagian dari rumah kaca.

Jarak Venus dan Mars ke matahari hampir sama dengan jarak bumi ke Matahari, jadi faktor jarak dengan matahari tidak terlalu berpengaruh pada perbedaan suhu antara Bumi, Mars dan Venus.

Jadi hal yang perlu dibandingkan adalah terkait dengan massa planet serta komposisi atmosfernya.

Telah diketahui, massa planet Mars sangat kecil, dan karena itu gravitasinya terlalu kecil untuk mempertahankan kepadatan udara; atmosfernya sekitar seratus kali lebih tipis dari Bumi dan sebagian besar terdiri dari karbon dioksida. Rata-rata suhu permukaan Mars sekitar – 50 ° C (di bawah nol), jadi sedikit sekali karbon dioksida yang membeku di dalam tanah.

Sebaliknya, Venus memiliki massa yang hampir sama dengan Bumi tetapi atmosfer yang jauh lebih padat, yang terdiri dari 96% karbon dioksida. Persentase karbon dioksida yang  tinggi ini menghasilkan pemanasan global yang intens dan Venus memiliki suhu permukaan lebih dari + 460 ° C.

Persentase gas rumah kaca yang dikandung di atmosfer bumi relatif kecil. Sebagai perbandingan bahwa atmosfer bumi kita terdiri dari 78% nitrogen, 21 % oksigen dan sisanya 1% merupakan gas lainnya. Gas lain ini termasuk apa yang disebut rumah kaca.

Ada 2 gas rumah kaca yang paling penting yaitu Karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Saat ini jumlah gas karbon dioksida hanya sebesar 0.03 % – 0.04 % dari jumlah atmosfer, sementara uap air memiliki kandungan yang bervariasi pada kisaran 0 sampai 2%.

Jika tidak ada kandungan gas rumah kaca pada atmosfer bumi, maka suhu rata-rata bumi dapat menjadi -20 °C (di bawah nol).

Karena ada nya perbedaan yang mencolok dari kandugan gas yang ada di atmosfer antara Bumi, Mars dan venus inilah yang menyebabkan perbedaan suhu yang mencolok antara ketiga planet ini.

Namun suhu Mars dan Venus lebih stabil jika dibandingkan dengan suhu rata-rata Bumi.

Hal ini disebabkan jumlah karbon dioksida dan uap air yang sering berubah-ubah pada atmosfer bumi sehingga suhu bumi sering tidak dapat diprediksi (perubahannya).

Iklim Masa Lalu dan Peran Karbon Dioksida Terhadap Perubahan Iklim

Salah satu cara mengetahui pentingnya peran karbon dioksida pada atmosfer dalam mengendalikan iklim global adalah melalui penelitian tentang iklim masa lalu kita.

Selama dua setengah juta tahun terakhir iklim Bumi telah berganti di antara zaman es besar, dengan tebal lapisan es di atas 3 km di Amerika Utara dan Eropa, sampai pada kondisi sekarang di mana lapisan es sudah lebih menipis.

Bukti utamanya diperoleh dari inti es yang dibor di Antartika dan Greenland. Seperti salju yang jatuh, bersifat ringan dan halus serta mengandung banyak udara. Saat ini secara perlahan melalui proses alam yang lama salju yang jatuh dipadatkan untuk membentuk es, sebagian dari udara yang jatuh bersama salju terperangkap di dalam es.

Dengan cara mengekstraksi gelembung udara yang terperangkap di es yang telah terpendam, para ilmuwan bisa mengukur persentase gas rumah kaca yang dikandung oleh atmosfer di masa lalu.

Para ilmuwan telah mengebor lebih dari dua mil ke bawah ke dalam lapisan es Greenland dan Antartika, yang memungkinkan mereka merekonstruksi jumlah gas rumah kaca yang terjadi di atmosfer selama setengah juta tahun terakhir.

Dengan memeriksa isotop oksigen dan hidrogen di inti es, memungkinkan untuk memperkirakan suhu di mana es terbentuk.

Diperoleh hasil mencolok pada variasi jumlah gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) serta korelasi dengan kenaikan suhu pada 400.000 tahun terakhir.

Hasil penelitian ini mendukung pendapat (ide) bahwa peningkatan gas rumah kaca (CO2, CH4, dan lainnya) memiliki hubungan dengan peningkatan suhu di atmosfer Bumi.

Ini yang menjadi konsern kita bersama yaitu tentang perubahan iklim di masa depan, terutama yang akan berdampak pada anak cucu serta generasi selanjutnya di masa depan.

Salah satu hal yang mengkhawatirkan dari hasil penelitian ini adalah bahwa iklim bervariasi secara regional sebesar 5°C dalam beberapa decade terakhir, yang menunjukkan bahwa kenaikan ini tidak lagi mengikuti pola linear (telah menjadi nonlinear).

Karena itu kita harus bertindak secara dramatis untuk mengatasi efek rumah kaca ini karena bisa jadi hal ini bisa berdampak besar pada kehidupan anak cucu kita yang akan datang.

Kenaikan Jumlah Karbon Dioksida Selama Periode Industri

Salah satu hal yang telah diterima secara universal adalah bahwa telah terjadi peningkatan karbon dioksida secara signifikan sejak dimulainya periode Industri. Hal ini dibuktikan melalui pengukuran jumlah karbon dioksida yang dilakukan pada tahun 1958 di puncak gunung Mauna Lowa di Hawai pada ketinggian 4000 meter. Lokasi ini sengaja dipilih karena jauh dari lokasi industri.

Pada saat itu hasil pengukuran menunjukkan jumlah karbon dioksida sebesar 316 parts per million by volume (ppmv). Pengukuran yang sama dilakukan pada tahun 1998 dengan jumlah karbon dioksida meningkat menjadi 369 ppmv.

Data dari hasil penelitian di Mauna Loa ini bisa dikombinasikan dengan data penelitian pada inti es untuk mendapatkan hasil lengkap mengenai catatan karbon dioksida atmosfer sejak awal revolusi industri.

Hasil nya adalah bahwa telah terjadi peningkatan konsentrasi CO2 sejak periode pra industri sekitar 280 ppmv menjadi lebih dari 370 ppmv di mana terjadi peningkatan sebesar 160 miliar ton yang artinya terjadi peningkatan sebesar 30 % dari jumlah keseluruhan.

Jika kita bandingkan peningkatan karbon dioksida pada periode jaman es sebesar 200 ppmv sampai dengan periode pra industri 280 ppmv, peningkatan 160 miliar ton sampai sekarang (dari 280 ppmv menjadi lebih dari 370 ppmv) artinya telah ada pasokan polusi yang kita lakukan yang menyebabkan  meningkatnya karbon dioksida secara signifikan dalam periode 100 tahun terakhir.

Akibatnya, saat ini negara-negara industri harus memikul tanggung jawab utama untuk mengurangi emisi karbon dioksida menjadi sekitar 22 miliar ton

per tahun. Amerika Utara, Eropa dan Asia meenghasilkan lebih dari 90 % keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan proses industri.

Siapa yang Bertanggung Jawab ?

Konvensi Kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim telah dibentuk untuk menghasilkan perjanjian internasional pertama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca global.

Namun tugas yang diemban tidaklah mudah, karena emisi karbon dioksida tidak diproduksi secara merata di berbagai negara.

Sumber utama karbon dioksida berasal dari hasil  pembakaran bahan bakar fosil, karena penyebab utama dari emisi karbon berasal dari hasil produksi energi, proses industri dan transportasi. Hal ini tidak merata di seluruh dunia karena distribusi industri yang tidak merata di berbagai negara.

Akibatnya, saat ini negara-negara industri harus memikul tanggung jawab utama untuk mengurangi emisi karbon dioksida menjadi sekitar 22 miliar ton per tahun. Amerika Utara, Eropa dan Asia menghasilkan lebih dari 90 % keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan proses industri.

Sumber utama kedua berasal dari pembukaan lahan hutan untuk keperluan pertanian, urbanisasi atau jalan.

Pola emisi karbon dioksida yang disebabkan pembukaan lahan berbeda dengan Amerika Selatan, Asia dan Afrika yang bertanggung jawab atas lebih dari 90 % emisi karbon akibat penggunaan lahan, sekitar 4 miliar ton karbon per tahun.

Jadi, siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap peningkatan emisi gas karbon dioksida?

Tentu saja dari ulasan di atas kita dapat menyimpulkan negara-negara maju yang sejak awal revolusi industri di paruh kedua tahun 1700-an telah memancarkan sebagian besar gas rumah kaca.

Masalah utama selanjutnya adalah tentang pembagian tanggung jawab.

Di lain pihak negara-negara non industri juga berjuang untuk meningkatkan standar hidup penduduk mereka, sehingga mereka juga meningkatkan emisi gas rumah kaca di negeranya, karena pembangunan ekonomi sangat erat kaitannya dengan produksi energi yang akan menghasilkan karbon dioksida.

Sebagai contoh negara Cina memiliki emisi terbesar kedua karbon dioksida di dunia. Namun emisi perkapita orang Cina sepuluh kali lebih rendah daripada Amerika Serikat yang menempati peringkat teratas. Jadi ini berarti setiap orang USA bertanggung jawab  atas produksi emisi gas karbon yang besarnya 10 kali lebih besar.

Jadi semua draft perjanjian internasional tentang pemotongan emisi sejak KTT Bumi Rio pada tahun 1992 tidak termasuk negara berkembang, karena dipandang tidak adil pada perkembangan ekonominya.

Namun hal ini juga dapat menimbulkan masalah yang signifikan karena sebagai contoh Cina dan India mengalami percepatan Industrialisasi, dengan populasi gabungan lebih dari 2.3 miliar orang yang akan memberikan polusi dalam jumlah besar.

Apa Itu IPCC

Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) didirikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bidang Lingkungan (United Nations Environmental Panel) dan Organisasi Meteorologi Dunia karena kekhawatiran tentang pemanasan global.

Tujuan utama dari IPCC adalah penilaian lanjutan tentang hal hal yang diketahui pada perubahan iklim, lingkungan dan dampak sosial-ekonomi dan strategi untuk mengatasinya.

Pertemuan di Den Haag pada November 2000 dan di Born pada Juli 2001 adalah upaya kedua dan ketiga untuk meratifikasi protokol yang ditata di Kyoto pada tahun 1998.

Sayangnya Presiden Bush menarik Amerika Serikat keluar dari negosiasi pada Maret 2001. Namun,

186 negara lain membuat sejarah pada Juli 2001 dengan menyetujui perjanjian lingkungan dunia yang paling komprehensif dan jauh jangkauannya.

IPCC memiliki 3 kelompok kerja ditambah 1 satuan yang bertugas untuk menghitung jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan masing-masing negara. Berikut merupakan tugas dari masing-masing kelompok kerja :

Kelompok Kerja I : Menilai aspek ilmiah dari sistem dan perubahan iklim;

Kelompok kerja II : Menentukan aspek berbagai aspek atau pengaruh dari perubahan iklim pada manusia dan alam, termasuk pengaruh negatif dan positif dari perubahan iklim serta pilihan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut;

Kelompok kerja III : Menilai pilihan untuk membatasi gas rumah kaca dan mitigasi lainnya terhadap perubahan iklim, termasuk di bidang ekonomi.

Apa Itu Perubahan Iklim ?

Perubahan iklim dapat memanifestasikan dirinya dalam sejumlah cara, misalnya perubahan suhu regional dan global, perubahan pola curah hujan, ekspansi dan kontraksi lapisan es dan variasi permukaan laut.

Perubahan iklim ragional dan global ini merupakan tanggapan terhadap pemaksaan mekanisme internal dan eksternal pada Bumi.

Sebagai contoh pemaksaan mekanisme internal adalah variasi jumlah karbon di atmosfer yang memodulasi efek rumah kaca. Sedangkan pemaksaan mekanisme eksternal adalah variasi jangka panjang orbit Bumi mengelilingi matahari, yang mengubah distribusi regional radiasi matahari ke Bumi. Hal ini menyebabkan memudarnya dan berakhir zaman es.

Jadi dalam hal mencari bukti pemanasan global dan memprediksi perubahan iklim di masa depan, kita perlu memperhitungkan semua factor termasuk faktor pemaksaan internal dan eksternal.

Hubungan Antara Perubahan Iklim dan Pemanasan Global

Kita telah melihat bahwa ada bukti yang jelas bahwa konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer telah meningkat sejak revolusi  industri pada abad ke-18.

Sesuai konsensus ilmiah saat ini bahwa perubahan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer memang menyebabkan perubahan suhu global.

Bagaimanapun, masalah terbesar dengan hipostesis pemanasan global adalah memahami betapa sensitifnya iklim global untuk meningkatkan tingkat jumlah karbon di atmosfer. Bahkan jika ini telah dipahami, rumit untuk memprediksi perubahan iklim karena melibatkan banyak faktor yang berbeda yang merespon secara berbeda ketika atomosfer memanas, termasuk perubahan suhu regional, mencairnya gletser dan lembaran es, perubahan level permukaan laut, intensitas badai, El Nino dan bahkan sirkulasi samudera.

Hubungan antara pemanasan global dan perubahan iklim ini menjadi rumit karena setiap bagian dari sistem perubahan iklim global memiliki respon waktu yang berbeda.

Misalnya, atmosfer bisa menanggapi perubahan eksternal atau internal dalam sehari, tetapi  lautan dalam mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk merespons, sementara vegetasi dapat mengubah bentuk strukturnya dalam beberapa minggu (misalnya mengubah jumlah daun) tetapi komposisinya (misalnya pertukaran jenis tanaman) bisa memakan waktu hingga satu abad untuk berubah.

Jadi kita perlu memisahkan variabilitas iklim alami dari pemanasan global. Kita perlu memahami bagaimana bagian yang berbeda dari sistem iklim berinteraksi, mengingat bahwa semuanya memiliki perbedaan waktu respons.

Kita perlu memahami seperti apa penyebab perubahan iklim, dan apakah itu akan berangsur-angsur atau katastropik.

Kita juga perlu memahami bagaimana berbagai wilayah dunia akan terpengaruh; misalnya, dikatakan bahwa rumah kaca tambahan gas akan menghangatkan kutub lebih dari daerah tropis.

Ini merupakan salah satu tantangan untuk memahami lebih jauh tentang sistem iklim dan hubungannya dengan prediksi iklim di masa depan.

Sebab-Sebab Pemanasan Global

Ada beberapa penyebab lain yang membuat peristiwa global warming semakin meresahkan. Diantaranya sebagai berikut :

Gas Buangan Industri

Penyebab Pemanasan Global

Sekarang ini industri-industri di seluruh dunia semakin berkembang dengan pesat. Tak terkecuali Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia.

Aktivitas perindustrian yang sudah terlanjur menjamurakan sangat sulit dihentikan. Karena dapat berdampak pada perputaran ekonomi suatu wilayah. Padahal, gas-gas buangan industri ini sangatlah berbahaya.

Gas-gas tersebut mengandung karbon monoksida, karbondioksida (CO2), methana dan sebagainya, yang akan membuat efek rumah kaca.

Selain itu, gas-gas tersebut dapat mencemari udara dan menjadi polutan di sekitarnya. Belum lagi limbah yang dibuang sembarangan juga dapat mencemari ekosistem setempat.

Asap Kendaraan Bermotor

Asap Kendaraan Bermotor

Kendaraan bermotor juga mengalami evolusi yang semakin canggih hingga volumenya di jalanan sangatlah padat. Kendaraan pribadi dan kendaraan umum bercampur menjadi satu sehingga masalah polusi udara sudah tak dapat dihindari lagi.

Asap-asap dari kendaraan bermotor juga mengeluarkan gas karbon monoksida dan karbondioksida yang berbahaya bagi kesehatan tubuh maupun kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Anda akan kesulitan mencari udara bersih di wilayah-wilayah padat penduduk, misalnya Ibukota kita sendiri, yaitu Jakarta.

Hutan yang Semakin Menyempit

Hutan yang dipenuhi pepohonan sebenarnya mempunyai peran penting dalam mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Sedangkan sekarang ini luas hutan semakin menyempit, diakibatkan oleh penyalahgunaan lahan untuk kepentingan pihak-pihah tertentu.

Mereka yang tidak memikirkan masa depan peradaban bumi justru menebang atau membakar hutan agar dapat membangun tempat-tempat baru yang menunjang sektor perekonomian. Secara tak sadar, aktivitas ini justru menjadi penyebab meningkatnya pemanasan global.

Pemakaian Listrik yang Berlebihan

Penggunaan listrik yang kurang efisien juga bisa menjadi penyebab pemanasan global. Sebab, penguapan pada listrik inilah yang akan memunculkan gas karbondioksida.

Memang presentasenya terhitung kecil, tidak sebesar gas industri maupun asap kendaraan bermotor. Akan tetapi, ada baiknya bila Anda memanfaatkan listrik seefisien mungkin, demi pasokan listrik yang dapat tersebar merata.

Saat ini sudah digalakkan kampanye untuk penghematan listrik demi mencegah global warming yang semakin parah. Usaha ini akan berhasil jika kita bisa melakukannya bersama-sama. Pakailah listrik di kala memerlukannya saja dan matikan ketika tidak menggunakannya.

Contoh kecilnya adalah memadamkan lampu di siang hari.

Baca juga: Tips berhemat listrik

Bangunan Rumah dengan Desain Modern

Rumah dengan konsep modern sekarang ini lebih banyak menerapkan bangunan yang terdiri dari kaca. Mungkin memang terlihat lebih eksklusif, tapi tahukah Anda bahwa kaca-kaca tersebut dapat mempercepat efek rumah kaca? Kaca-kaca tersebut tak mampu menyerap sinar matahari, sehingga akan dipantulkan kembali ke udara.

Inilah mengapa sebaiknya Anda menerapkan konsep bangunan dengan kaca seminim mungkin. Anda bisa membuatnya untuk jendela, tapi usahakan agar bagian bangunan lainnya menggunakan bahan-bahan lain yang lebih kokoh.

Pembakaran Sampah Organik maupun Anorganik

Aktivitas selanjutnya yang turut mendukung pemanasan global adalah pembakaran sampah, baik itu sampah organik maupun anorganik.

Seperti yang Anda ketahui, asap hasil pembakaran mengandung beberapa gas berbahaya. Apalagi gas yang ditimbulkan oleh sampah anorganik, misalnya plastik.

Oleh karena itu, jika terdapat sampah yang menumpuk di sekitar Anda, jangan memusnahkannya dengan cara dibakar. Cari tahu cara yang lebih bermanfaat. Bisa dengan mendaur ulang agar menjadi benda yang lebih bermanfaat dari sebelumnya.

Penggunaan Produk yang Mengandung CFC

Cloro Four Carbon (CFC) adalah sebuah bahan kimia yang dicampurkan dengan bahan lain demi kepentingan produksi peralatan rumah tangga.

Artinya, ada beberapa peralatan rumah tangga yang harus diwaspadai penggunaannya.Biasanya kandungan CFC ini terdapat pada kulkas maupun AC. Sampai saat ini penggunaan kulkas masih dibutuhkan dan berguna untuk mengawetkan bahan makanan.

Namun, Anda bisa mengurangi penggunaan AC sedikit demi sedikit. Untuk wilayah yang panas seperti Jakarta maupun Surabaya mungkin sulit menghindari AC.

Anda bisa mengakalinya dengan menghemat pemakaian AC. Hal ini juga pastinya akan berpengaruh pada pemakaian listrik juga.

Industri Peternakan dan Pertanian

Industri Peternakan

Ternyata industri peternakan dan pertanian juga memegang andil besar membuat global warming. Dari industri peternakan sendiri yang menyebabkan pemanasan global adalah peternakan sapi.

Sapi menghasilkan gas methana yang besar dan tersebar ke udara bebas. Gas tersebut berasal dari kentut dan kotoran sapi.

Asalnya dari bakteri pengurai zat selulosa yang ada di perut sapi. Mengingat banyaknya manfaat sapi untuk diambil susu maupun dagingnya, tak heran bila hewan ini mempunyai pengaruh yang signifikan.

Sementara pada bidang pertanian sendiri bisa dijumpai dari pupuk yang digunakan. Biasanya pupuk tersebut mengandung gas nitrous oksida yang dilepaskan ke udara. Gas tersebut juga menjadi salah satu penyebab efek rumah kaca.

Aktivitas Penambangan

Penambangan hasil bumi juga bisa menyebabkan global warming. Beberapa diantaranya adalah tambang batu bara dan minyak bumi. Aktivitas penambangan yang setiap hari dilakukan ini akan menghasilkan karbondioksida yang akan terbang bebas ke atmosfer.

Pencemaran Lautan

Lautan luas di bumi mampu menyerap kadar karbondioksida dalam kapasitas yang lumayan banyak. Sayangnya, sekarang ini laut banyak yang tercemar oleh limbah industri maupun sampah.

Pencemaran ini membuat ekosistem lautan terganggu dan rusak. Akibatnya, laut tak dapat menyerap karbondioksida lagi dengan baik.

 

Dampak Global Warming

 

Setelah mengetahui beberapa penyebab pemanasan global, sekarang kita beralih pada dampak-dampak yang dapat ditimbulkan. Beberapa dampak besar tersebut adalah :

Dampak Bagi Kondisi Lautan

Akibat Pemanasan Global

  • Kenaikan Permukaan Air Laut

Dampak global warming pertama dilihat dari kondisi laut adalah naiknya permukaan air laut. Mungkin dampak ini tidak dapat Anda rasakan secara langsung. Bahkan mungkin Anda tak dapat merasakannnya.

Tapi sadar atau tidak, kenaikan permukaan air laut yang sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun ini telah menenggelamkan pulau-pulau kecil. Jika hal ini terus dibiarkan, maka lama-kelamaan pulau yang kita huni juga ikut tenggelam.

Kenaikan permukaan air laut ini disebabkan oleh mencairnya gunung es yang ada di kutub utara maupun kutub selatan.

Di sana merupakan suhu terdingin bumi dan terdapat gunungan-gunungan es. Akan tetapi, suhu bumi yang menghangat akibat pemanasan global mampu mencairkan gunungan es tersebut. Sehingga volume lautan menjadi bertambah dan mengalami kenaikan.

  • Suhu Air Laut Meningkat

Akibat suhu bumi yang terlalu panas, tak heran jika air laut juga mengalami kenaikan suhu. Air laut akan terasa menghangat dibandingkan dulu. Perubahan suhu ini juga tentunya membawa pengaruh buruk pada ekosistem bawah laut.

  • Binatang-Binatang di Lautan Mati

Salah satu pengaruh buruk ekosistem laut sebagai dampak dari global warming adalah binatang-binatang laut banyak yang mati.

Tidak semua hewan laut akan tahan dengan perubahan suhu air laut yang meningkat. Akibat ketidaktahanan ini, mereka akan mati. Telah banyak dijumpai kasus dimana tiba-tiba hewan laut mati massal dan terapung di permukaan air laut. Hal ini bisa saja dampak dari air laut yang menghangat.

Dampak Bagi Iklim dan Cuaca di Dunia

Cuaca Lebih Panas

  • Cuaca yang Menjadi Lebih Panas

Dampak global warming tentunya yang membuat Bumi hangat tentunya juga akan membuat cuaca lebih panas dari biasanya. Mungkin Anda sering merasakannya akhir-akhir ini dibandingkan dengan masa kecil dulu kan?

Inilah tanda dari global warming yang semakin merajalela. Suhu udara pun juga meningkat dan membuat kita semua merasa kegerahan. Meskipun sinar matahari dirasa tidak terlalu terik, namun kita akan tetap merasakan panas yang menyengat kulit dan kegerahan.

  • Perubahan Cuaca yang Tidak Menentu

Dampak selanjutnya adalah bisa dilihat dari pergantian cuaca yang tidak menentu. Hal ini membuat kita sebagai manusia tidak dapat memprediksi cuaca dengan tepat.

Misalnya saja sekarang masuk dalam musim penghujan. Tiba-tiba keesokan harinya cuaca akan sangat panas dan terik disertai hawa yang menghangat. Atau bisa jadi saat musim kemarau, muncul hujan badai yang disertai angin kencang.

  • Durasi Musim yang Tidak Sama

Pemanasan global dapat menyebabkan durasi musim yang lamanya tidak sama. Kita ambil contoh musim di Indonesia yang terbagi menjadi dua, yaitu kemarau dan penghujan. Umumnya masing-masing musim akan berlangsung selama 6 bulan. Musim kemarau pada bulan April – Oktober dan penghujan dari Oktober – April.

Namun, adanya pemanasan global membuat durasi musim bisa lebih panjang atau pendek. Beberapa tahun lalu Indonesia sempat mengalami musim penghujan yang hampir berlangsung sepanjang tahun. Kadang musim kemarau juga datang lebih lama dan membuat beberapa wilayah mengalami kekeringan.

  • Musim yang Datang Tak Sesuai Masa

Dampak ini berkaitan dengan durasi musim yang tidak sama. Ketika musim penghujan di Indonesia seharusnya berlangsung dari Oktober – April, tiba-tiba saja di bulan Januari langsung disambut terik matahari yang menandakan datangnya musim kemarau.

Sementara pada musim kemarau yang seharusnya berlangsung bulan April – Oktober, hujan badai menerpa di bulan Juni. Kondisi ini dapat terjadi selama beberapa waktu sebelum iklim atau cuaca kembali seperti musim semula.

Dampak Bagi Lingkungan Sekitar

  • Banyaknya Bencana Alam yang Terjadi

Belakangan ini bencana alam memang sering terjadi pada beberapa belahan dunia, termasuk Indonesia sendiri. Kemungkinan besar penyebabnya adalah global warming ini. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi menyumbang penambahan gas karbon dioksida (efek rumah kaca), yang ditandai dengan sering terjadi badai, angin puting beliung, maupun banjir.

Semua bencana alam ini tentu akan merusak lingkungan sekitar, bahkan rumah sendiri. Daerah yang mengalami dapat mengalami banyak kerugian dari segi materiil maupun nonmateriil. Sebab, bencana alam dahsyat juga dapat menimbulkan korban jiwa.

  • Udara Terasa Panas Saat Hujan

Hujan identik dengan suhu yang dingin.Biasanya Anda bisa menikmati sejuknya udara setelah diguyur hujan. Namun jangan harap Anda akan merasakannya sekarang.

Justru meskipun hujan, Anda akan merasakan gerah yang luar biasa. Hawa gerah ini bisa jadi diakibatkan adanya global warming.

  • Peristiwa Kebakaran yang Merajalela

Bencana selanjutnya adalah bencana kebakaran yang sering melanda terutama saat musim kemarau. Peristiwa ini umumnya terjadi pada hutan atau perkebunan. Api awalnya muncul pada gesekan dedaunan maupun ranting, tapi akibat suhu yang juga panas, maka api pun semakin membara dengan cepat.

Dampak Bagi Flora dan Fauna

Dapat Menyebabkan Flora dan Fauna Punah

  • Punahnya Spesies Fauna Langka

Salah satu ancaman besar global warming adalah memusnahkan hewan-hewan langka. Sebut saja beruang kutub yang tinggal di kutub utara. Mereka mempunyai spesifikasi khusus untuk tinggal di daerah yang super dingin.

Tuhan telah menciptakan bulu-bulu tebal untuk tetap menghangatkan tubuh. Lalu apa yang terjadi ketika suhu bumi meningkat dan es mencair? Mereka  tidak memiliki habitat dan bulu-bulu tubuhnya otomatis akan rontok. Keadaan ini akan membuat mereka lama-kelamaan tidak tahan dan mati.

  • Berbagai Macam Flora Banyak yang Mati

Perubahan iklim yang terlalu ekstrem juga membuat beberapa tanaman serta tumbuhan tak dapat beradaptasi dengan baik.Apalagi jika musim kemarau tiba. Tanaman dan tumbuhan membutuhkan pasokan air untuk membuatnya tetap hidup. Namun musim kemarau yang berkepanjangan membuat lingkungan mengalami kekeringan dan tanaman serta tumbuhan tersebut tak dapat bertahan hidup.

 

Cara Mengatasi Pemanasan Global

 

Global warming tidak dapat diatasi secara instan, tapi ada beberapa usaha untuk mengurangi dampaknya. Berikut tindakan yang harus kita lakukan :

Mengurangi Pemakaian Kendaraan Bermotor

Cara pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi pemakaian kendaraan bermotor.Anda bisa beralih menggunakan sepeda untuk menempuh jarak dekat.

Sedangkan untuk jarak jauh, cobalah manfaatkan kendaraan umum. Memang kendaraan umum masih tergolong bermotor, namun setidaknya Anda sudah mengurangi volume kendaraan di jalan raya dengan tidak mengendarai kendaraan pribadi.

Banyak orang yang masih merasa gengsi untuk naik kendaraan umum, tapi bila Anda peduli dengan nasib Bumi ini, maka lakukanlah demi kebaikan semuanya. Apalagi sekarang kendaraan umum semakin digodog fasilitasnya agar para penumpang merasa nyaman.

Jangan Menebang Pohon Sembarangan, Sebaliknya Tanamlah Pohon

Kasus penebangan pohon memang marak terjadi. Tapi perlu Anda sadari bahwa aktivitas ini akan berdampak pada bencana-bencana lain yang akan datang.

Pikirkanlah baik-baik kepentingan bersama, dibandingkan kepentingan pribadi. Pohon adalah sumber kehidupan dimana makhluk tersebut mampu mengubah zat karbondioksida di udara menjadi oksigen.

Karbondioksida adalah gas yang menjadi penyebab utama terjadinya efek rumah kaca. Bayangkan bila Anda bisa menanam pohon hijau yang banyak, pastinya kadar karbondioksida akan berkurang drastis dan digantikan dengan oksigen yang menyehatkan organ paru-paru.

Mengurangi Pemakaian Plastik dan Bahan Lain yang Sulit Diurai Tanah

Berikutnya adalah mengurangi penggunaan plastik dan bahan-bahan lain yang sulit diuraikan oleh tanah. Semua bahan tersebut pada akhirnya akan menumpuk dan menjadi sampah. Anda tidak akan bisa melenyapkan sampah-sampah tersebut kecuali dengan membakarnya.

Tapi sayangnya, aktivitas pembakaran sangat berbahaya dan bukanlah solusi yang tepat. Kecuali, Anda bisa mengolahnya dengan tepat untuk didaur ulang dan diciptakan menjadi benda baru yang mempunyai nilai guna.

Tidak Membuang Limbah Industri Sembarangan

Limbah industri yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan di sekitarnya. Seperti tanah, kebun, sungai bahkan lautan. Sebelum Anda mendirikan industri tertentu, pastikan bahwa limbah tersebut tidak akan menimbulkan dampak buruk.

Atau setidaknya cari cara untuk bisa mendaur ulangnya kembali. Limbah industri yang terbuang ini jika sampai ke laut akan menghambat peran lautan untuk menyerap karbondioksida di udara.

Memberikan Penyuluhan Tentang Bahaya Pemanasan Global

Masih banyak masyarakat yang kurang awas dengan dampak yang ditimbulkan oleh global warming ini. Oleh karena itu, tugas Anda adalah memberikan penyuluhan kepada warga-warga sekitar maupun rekan-rekan terdekat.

Ajak mereka untuk menanam pohon bersama maupun mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Sampaikan dengan cara yang lembut agar mereka mengerti dan mau melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.

Perlu kerja sama yang bagus antar umat manusia untuk bisa mengatasi masalah pemanasan global. Semua orang harus memiliki kesadaran yang sama. Buang rasa egois masing-masing untuk memperbaiki keadaan Bumi yang sudah semakin memprihatinkan ini.

Images: pixabay.com

Sumber: Global Warming, A Very Short Introduction – Mark Maslin

(Ika Pratiwi)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *