Mimpi, Kerjasama Tim dan Semangat Tanpa Syarat Antar Leicester City jadi Juara

“Ini adalah klub kecil yang menunjukkan pada dunia apa yang dapat dicapai melalui semangat dan tekad Dua puluh enam pemain Dua puluh enam otak yang berbeda Tapi satu hati..”

-Ranireri-

Statistik mengatakan Leicester City merupakan tim papan bawah hingga Menengah Liga Primer yang tidak memiliki pengalaman juara Liga Inggris sebelumnya. Pelatih Leicester, Claudio Ranieri, juga merupakan pelatih yang bisa dibilang tidak terlalu gemilang sebagai pelatih di Liga Primer, jika dibandingkan pelatih sekelas Alex Fergusson, Jose Mourinho, tanpa pengalaman membawa klub juara di Liga Primer Inggris, dengan usianya yang sudah tidak terbilang muda, 64 tahun.

Lalu bagaimana Leicester City tim yang sudah berdiri 132 tahun lalu tanpa gelar juara di Liga Primer bisa menduduki peringkat puncak di Liga Primer Inggris musim ini? Tim yang hampir terdegradasi di musim lalu dan ada yang mempertaruhkan terdegradasi musim ini juga tidak masuk hitungan statistik sebagai tim yang dapat menyaingi tim papan atas Liga Primer di peringkat 10 besar apalagi untuk juara Liga Primer. Dengan spek pemain di bawah rata-rata serta pelatih dengan pengalaman “lumayan”, bisa dibilang target yang Impossible untuk meraih gelar Juara.

Berani Bermimpi dan Memiliki Tekad

Meskipun awalnya target mereka adalah agar tidak terdegradasi dari Liga Primer, Leicester City mulai berani bermimpi menjadi Juara setelah kemenangan keempat mereka secara beruntun. Mereka terus berjuang untuk mewujudkan mimpi mereka. Secara konsisten mereka berusaha untuk tetap fokus berada di jalur performa terbaik mereka. Ranieri juga mengungkapkan rahasia mereka tetap perform adalah karena usaha mereka untuk tetap tenang dan tetap membumi.

Fokus pada Kekuatan serta Mengabaikan Rival-Rival

Dari segi kekuatan di atas kertas jelas kekuatan individu skuad Leicester City, tidak sebanding dengan skuad tim kelas papan atas di Liga Primer. Tetapi kelihatannya mereka mengabaikan itu. Mereka tetap bertanding dengan cara yang terbaik yang dapat mereka lakukan dan musuh mereka adalah diri mereka sendiri.

Uang Bukan Segalanya

Leicester City telah mematahkan statistik dan keyakinan banyak orang bahwa uang adalah segalanya dalam sepakbola. Sebelum Leicester menjadi juara hampir semua orang memiliki keyakinan yang sama bahwa tim dengan pemain dan pelatih berbayar termahal yang akan mendominasi dan akan menjadi calon juara (di kisaran 5 besar) di Liga sepakbola manapun di belahan bumi ini termasuk Liga Inggris. Tidak dipungkiri bahwa selama ini tim raksasa seperti Manchester City, Chelsea, Mancester United, Arsenal telah menjadi langganan tim favorit juara dengan hampir selalu bertengger di lima besar dan telah beberapa kali memegang titel juara karena mereka berani membeli pemain-pemain dan pelatih dengan bayaran selangit.

Sebagai perbandingan, salah satu tim skuad papan atas Manchester City mulai memperoleh hasil positif (setelah lama puasa gelar) termasuk menjadi juara Liga Primer tiga kali setelah dibeli oleh Grup ABU Dhabi United pada 2008 dan menjadi tim sepakbola terkaya di Liga Inggris dengan pemain-pemain berbayar selangit (setelah mendapat suntikan dana dari sang pemilik). Manchester United yang sudah memiliki jutaan fans, juga sebelumnya adalah langganan title juara liga Inggris dengan biaya pengeluaran untuk skuadnya yang jauh di atas Leicester City. Berikut ini data statistik per tahun 2015 pengeluaran untuk skuad di Liga Inggris : Manchester City (560 juta Euro),Manchester United (533 juta Euro), Chelsea (407 juta Euro), Liverpool (344 juta Euro), Arsenal (305 juta Euro), Tottenham (231 juta Euro), Southhampton (182 juta Euro), Newcastle (157 juta Euro) dan Leicester City berada di peringkat 17 termahal dengan total 72 juta Euro (seperdelapan dari Manchester City).

Kemenangan Leicester merupakan kemenangan Tim, Bukan kemenangan Perseorangan

Ranieri mengatakan bahwa Ia tidak ingin pemain bintang didatangkan ke klubnya karena menurut dia akan merusak spirit dan pola permainan yang sudah dibangun. Sampai pada saat dimulainya musim 2015/2016 Liga Primer, Leicester tidak melakukan pembelian pemain mahal jika dibandingkan pemain-pemain lain di Liga Primer. Tidak ada pemain yang istimewa di Leicester. Dari segi permainan, tidak ada persaingan untuk terlihat lebih unggul dari yang lain. Masing-masing memiliki skill dan otak yang berbeda tetapi memiliki spirit yang sama yaitu memenangkan pertandingan. Permainan yang ditampilkan Leicester adalah permainan cantik tim yang merupakan hasil kerjasama antar pemain dalam tim dan berjalan harmonis. Jarang terlihat pemain yang “makan bola sendiri”. Jika seorang pemain dalam keadaan terdesak atau perlu mengoper bola, maka bola akan bergulir ke pemain lainnya yang lebih memiliki peluang.

Lalu, setelah mimpi Leicester menjadi kenyataan, apakah Leicester City akan tetap bertengger di posisi 5 besar Liga Inggris musim selanjutnya ? Selain faktor usaha dan lucky, jawabannya terletak pada mimpi Leicester City selanjutnya..

Bravo Leicester City !!

Share

2 thoughts on “Mimpi, Kerjasama Tim dan Semangat Tanpa Syarat Antar Leicester City jadi Juara

  1. Heru

    Budget minim tapi prestasi maksimal, perlu jadi pembelajaran buat tim papan atas..Saya sendiri pendukung Chelsea tapi kayknya lagi bukan momen nya Chelsea tahun ini..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *