Memahami Batasan Aurat Wanita Serta Cara Berpakaian Yang Benar Menurut Islam

By |

Dalam Islam, menjaga aurat termasuk hal mendasar dan wajib ditaati. Jika dilanggar maka termasuk mengingkari syariat Islam dan dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang melanggar syariat. Untuk itulah, pada artikel ini kami akan memberikan informasi mengenai masalah tersebut dengan tujuan agar pembaca budiman, terutama wanita lebih paham tentang batasan aurat dan cara berpakaian yang disyariatkan oleh Islam.

 

 

Batasan Aurat Wanita dalam Islam

Sebelum membahas ke topik utama, penting untuk mengetahui apa itu aurat? Aurat sendiri berasal dari bahasa Arab yakni Awra, jamak dari Aurat. Secara bahasa, Awrat merupakan tempat yang paling tersembunyi dan rahasia, sedangkan Awra bermakna bagian dari manusia yang wajib disembunyikan. Yang wajib disembunyikan di sini dapat diartikan sebagai segala sesuatu (area tubuh manusia) yang dapat menyebabkan rasa malu bila terlihat oleh orang lain. Hal tersebut berdasarkan pada kitab Ibn Manzur berjudul Lisan al-Arab, 9/370. Sedangkan menurut terminology fikih Islam, Aurat diartikan sebagai daerah atau bagian tubuh manusia yang wajib ditutupi dari pandangan orang lain dengan pakaian yang sesuai syariat Islam.

Menjaga aurat wajib hukumnya untuk dipatuhi, sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an pada surah-surah berikut ini;

Surah Yang Menjelaskan Batasan Aurat dan Seruan Untuk Menutupinya

Surah Al-Ahzab 33:59

“Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:” Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Dari ayat ini disimpulkan bahwa aurat wanita mencakup seluruh tubuh, kecuali telapak tangan dan muka. Tujuan aurat selain untuk mudah dikenal juga untuk melindungi wanita dari gangguan niat buruk lawan jenis ataupun setan.

An-Nuur 24:31

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra saudara laki-laki mereka atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Surah Al-Ahzab 33:32

Yang berbunyi “Hai, istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah (bangkit nafsu) orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. “

Batasan Aurat Wanita Menurut Ulama dari Empat Madzhab

Islam memiliki 4 Madzhab. Meskipun demikian keempatnya ini benar dan memiliki pendapatnya sendiri-sendiri. Berikut ini pendapat keempat madzhab tentang tips batasan aurat wanita beserta cara berpakaian yang benar secara Islami;

  • Madzhab Syafi’i

Menurut As-Syarbini, Mughnil Muhtaj jilid 3 halaman 129 menyatakan bahwa mayoritas ulama dalam madzhab Syafi’i berpendapat bahwa aurat wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya adalah anggota tubuhnya selain yang ada di antara pusar dan lutut. Meskipun demikian, ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya adalah anggota tubuh yang biasa ia tampakkan saat ia menjalankan aktivitas sehari-hari di dalam rumah, seperti;

  • Kepala
  • Leher
  • Tangan hingga siku
  • Kaki hingga lutut

 

  • Madzhab Maliki dan Hambali

Seperti yang tertulis di kitab Al-Mughni karangan Ibnu Qudamah, jilid 7 halaman 105 mengatakan bahwa kedua madzhab yaitu Maliki dan Hambali sama-sama menyatakan bahwa anggota tubuh wanita yang boleh terlihat oleh mahramnya hanyalah wajah, kepala, kedua tangan dan dua kaki. Maka, haramlah hukumnya jika wanita menampakkan dada dan anggota tubuh lainnya di hadapan mahramnya.

Meskipun demikian Ibnu Qudamah sendiri memiliki sedikit perbedaan pendapat resmi dari Madzham Hambali yang dianutnya. Menurut beliau, batasan aurat wanita yang tidak boleh terlihat oleh mahramnya yaitu bagian tubuh antara pusar dan lutut. Hal ini beliau terangkan di kitab Al-Mughni jilid 7 halaman 98.

 

  • Madzhab Hanafi

Menurut Madzhab Hanafi, batasan aurat wanita yang tidak boleh terlihat oleh mahramnya adalah anggota tubuh seperti;

  • Pusar dan lutut
  • Punggung
  • Perut

Hal ini merujuk pada salah satu firman Allah Ta’ala dalam surah An-Nur ayat 31, yaitu “Dan jangalah kamu menampakkan perhiasan, kecuali pada suami…” Yang dimaksud dengan kalimat “jangan menampakkan perhiasannya” dalam ayat di atas adalah bahwa larangan untuk memperlihatkan anggota tubuh yang menjadi objek yang biasa dikenakan untuk perhiasan.

Hal ini merujuk pada hukum mubah secara mutlak untuk melihat perhiasan itu sendiri. Itulah mengapa kepala menjadi bagian yang boleh dilihat oleh mahram karena kepala merupakan anggota tubuh yang biasa dipakaikan perhiasan berupa mahkota. Demikian pula leher dan dada untuk perhiasan kalung, telinga untuk anting, pergelangan tangan untuk gelang, pergelangan kaki untuk gelang kaki, punggung telapak kaki untuk dihiasi daun pacar, dan lain sebagainya.  Sedangkan anggota tubuh seperti perut, punggung dan paha bukan termasuk anggota tubuh yang lazim dikenakan perhiasan.

Batasan aurat untuk wanita terbagi menjadi dua kategori, yaitu dalam shalat dan di luar shalat. Tips batasan aurat untuk wanita yang telah dijelaskan di atas merupakan batasan untuk diluar shalat. Lalu bagaimana batasan aurat untuk wanita dalam shalat? Berikut ini penjelasannya!

Tips Batasan Aurat Wanita Dalam Shalat

Saat shalat, aurat wanita terdiri dari seluruh tubuh kecuali bagian wajah, tangan, dan kaki. Jadi, wajib bagi seorang wanita yang pada saat shalat harus menutupi tubuhnya dengan baik, yaitu menutupi seluruh bagian anggota tubuh kecuali wajah, tangan dan kaki. Bagian wajah wajib ditutupi dengan benar yaitu tidak ada rambut yang terlihat barang satu helai pun. Selain itu, bagian atas pergelangan tangan dan pergelangan kaki juga tidak boleh terlihat.

Dalam sebuah kitab Maraqi al-Falah halaman 210 diterangkan juga bahwa saat melakukan shalat, wanita wajib menutupi auratnya dengan baik tanpa orang lain yang hadir atau sebaliknya, dan terlepas dari apakah wanita tersebut menjalankan kewajiban shalat dalam cahaya terang ataupun dalam keadaan gelap.

Masih menurut kitab Maraqi al-Falah P. 58, menjelaskan lebih rinci jika untuk area di bawah dagu, batas aurat wanita saat shalat dimulai dari titik dimana garis rambut biasanya tumbuh hingga bawah dagu, serta luasnya bagian antara kedua telinga.

Yang sangat perlu diketahui juga bahwa apabila seperempat dari anggota tubuh yang termasuk kategori aurat yang harus ditutupi tetapi ternyata terbuka selama melakukan gerakan shalat, kemudian jika ini tetap dengan durasi membaca Subhanallah sebanyak tiga kali, maka shalat menjadi tidak sah. Hal ini sama dengan jika seperempat bagian aurat wanita saat shalat ternyata terlihat sebelum memulai shalat, maka shalat tidak sah dari awal melakukan ibadah ini.

Setelah mengetahui batasan aurat untuk wanita, kini saatnya muslimah mengetahui cara berpakaian yang benar secara Islami agar benar-benar dapat menjalankan syariat Islam maksimal. Adapun tips cara berpakaian yang benar menurut syariat Islam adalah sebagai berikut ini;

10 Cara Berpakaian Bagi Wanita Yang Benar Menurut Syariat Islam

1. Menutup aurat kecuali yang memang biasa terlihat

Dari uraian di atas mengenai batasan aurat wanita, sebagian besar ulama menyatakan jika batasan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah, telapak tangan dan ujung jari-jari tangan. Selain itu juga wajib hukumnya untuk memakai pakaian yang panjang dan kerudung yang menjuntai sampai menutupi bagian dada. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 59 yang telah dicantumkan di awal pembahasan di atas.

Bahkan sebagian wanita ada yang juga mengenakan cadar untuk menutupi bagian wajahnya dan hanya menyisakan bagian matanya saja yang terbuka. Hal ini merujuk pada pendapat bahwa bagian wajah seorang wanita pun sama seperti bagian tubuh lainnya yang bisa memicu timbulnya syahwat bagi kaum pria.

2. Pakaian yang dikenakan harus longgar dan tidak boleh ketat

Menutupi aurat harus maksimal. Artinya menutupilah dengan kain yang benar-benar bisa menutupi tanpa meninggalkan kesan setengah-setengah. Dalam hal ini, artinya menutupilah aurat mu hai wanita dengan pakaian yang longgar. Karena meskipun pakaian telah menutupi aurat tapi masih dapat terlihat lekut tubuh, hal tersebut tetap bisa memancing syahwat laki-laki yang melihatnya. Islam mewajibkan setiap wanita untuk menutup aurat dengan pakaian yang longgar. Selain itu, tahukah kamu jika ternyata memakai pakaian longgar ternyata juga dianjurkan dalam dunia kesehatan? Hal ini bertujuan agar tubuh memiliki ruang gerak yang bebas dan leluasa sehingga kulit bisa bernafas juga.

3. Kenakanlah pakaian dengan bahan tebal (tidak transparan)

Hampir sama halnya dengan berpakaian longgar, dengan menggunakan pakaian berbahan tebal, maka wanita akan menghindarkan diri dari hal yang dapat memicu timbulnya syahwat. Pakaian yang transparan ataupun longgar, apalagi yang bisa dilihat dari luar sama artinya dengan telanjang. Telanjang berarti memamerkan aurat dan artinya itu tidak menjalankan syariat Islam. Pakaian yang benar untuk wanita dalam Islam adalah pakaian yang longgar dengan bahan yang tebal dan panjang hingga menutupi segala bagian tubuh yang masuk dalam kategori aurat.

4. Menghindari pakaian Syuhroh

Apa itu pakaian syuhroh? Pakaian syuhroh merupakan pakaian yang mengundang perhatian banyak orang. Tidak hanya terlalu mewah, tapi pakaian yang terlalu tidak layak pakai ataupun pakaian yang tidak sesuai dengan waktu dan tempat juga termasuk pakaian syuhroh. Hal ini diperkuat dengan sebuah hadis yang memiliki arti berbunyi;

Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah SAW bersabda; “Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

5. Berpakaianlah dengan pakaian yang sederhana saja

Islam sangat membenci penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong. Oleh karena itu cara berpakaian yang benar secara Islam haruslah dengan cara yang sederhana saja. Karena apabila wanita memakai pakaian yang berlebihan atau terlalu mencolok, maka akan lebih mudah menarik perhatian pandangan lawan jenis dan juga dapat menimbulkan penyakit hati seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

6. Pakaian yang dikenakan tidak boleh menyerupai laki-laki

Secara tegas Islam melaknat perempuan yang mengenakan pakaian ataupun berpenampilan seperti pria, begitupun sebaliknya melaknat pria yang mengenakan pakaian dan berpenampilan seperti wanita. Hal ini dijelaskan secara gamblang dalam dua hadist, yaitu riwayat dari Ibnu Abbas ra dan Abu Hurairah ra yang sama-sama berbunyi demikian, “Rasulullah SAW akan melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.”

7. Haram berpakaian menyerupai orang kafir (pakaian yang tidak mengenal aurat)

Islam telah menjelaskan secara gamblang perihal cara berpakaian yang benar dan baik menurut syariat Islam. Pakaian yang dimaksud di sini jelas jauh berbeda dengan pakaian orang kafir. Pakaian orang kafir tidak mengenal aurat, tapi lebih mengedepankan fashion. Sedangkan dalam Islam, pakaian yang wajib dikenakan haruslah yang menutupi aurat, bukan perkara fashion sebagai kiblatnya.

8. Tidak boleh menggunakan wangi-wangian untuk tujuan memikat lawan jenis

Tanpa memakai wangi-wangian pun wanita bisa menimbulkan fitnah (memikat lelaki), apalagi jika wanita memakai wangi-wangian untuk memikat lelaki? Kamu bisa membayangkannya sendiri. Hal itulah yang mendasari kenapa Islam melarang wanita menggunakan wangi-wangian dengan tujuan untuk menarik perhatian lawan jenis (menimbulkan syahwat). Sebuah hadits dari Abu Musa Al- Asy’ary mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Perempuan mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian melewati kaum pria dengan tujuan agar para pria tersebut mendapatkan bau harumnya, maka ia merupakan salah satu wanita pezina. (HR. An Nasa’I, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).

9. Menghindari pakaian yang berhias

Pakaian berhias di sini dikategorikan sebagai pakaian yang dihiasi dengan berbagai warna dan juga gambar yang tidak dianjurkan bagi wanita muslimah. Apalagi jika gambar tersebut merupakan gambar makhluk hidup yang memiliki ruh secara mutlak seperti manusia dan binatang, haram hukumnya. Tidak hanya itu, pakaian yang mencantumkan tulisan yang buruk atau yang dapat menimbulkan perpecahan, fitnah ataupun peperangan, juga sangat tidak dianjurkan dalam Islam. Contoh dari hal ini adalah lambang atau tulisan yang mengandung unsur sara dan lainnya.

10. Menghindari bertabarruj

Apa itu tabarruj? Tabarruj merupakan sebuah perilaku yang tergolong buruk untuk wanita karena menunjukkan apa yang harusnya disembunyikan atau ditutupi dengan memanfaatkan jilbab yang digunakan untuk memamerkan mahkota, perhiasan ataupun segala yang berbau kecantikan yang dapat menggoda kaum pria. Hal ini telah dijelaskan dalam al-Quran surah al-Ahzab ayat 33, yang artinya adalah “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang jahiliyyah pertama.”

Islam merupakan agama yang berarti selamat. Selamat baik untuk urusan dunia dan akhirat. Dalam Islam telah dijelaskan secara rinci apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh muslim dan muslimah, termasuk urusan batasan aurat wanita serta cara berpakaian yang benar secara Islami. Semoga penjelasan dapat menjadikan kaum wanita muslim lebih menjaga auratnya sehingga menjadikannya termasuk ke dalam orang-orang yang bertaqwa sekaligus beruntung baik di dunia maupun di akhirat. Amin.

Wallahu a’lam.

(Ika Pratiwi)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *