Kisah Orang Shalih yang Selalu Berprasangka Baik Terhadap Ketentuan Allah

  • Whatsapp

Assalamualaikum Pembaca…Kali ini saya ingin menuliskan salah satu kisah yang penuh hikmah yang telah cukup membuat saya tersentuh dengan apa yang dikisahkan.

Kisah ini diceritakan oleh Masruq salah seorang Tabi’in yang merupakan murid dari para sahabat Nabi Muhammad SAW seperti Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dan Aisyah binti Abu bakar. Itu makanya beliau termasuk dalam kelompok Salafus Shalih.

Diriwayatkan bahwa Masyruq memiliki sifat zuhud, wara, serta gemar beribadah.

Kisah ini menceritakan tentang seorang shalih yang selalu berpikir positif terhadap takdir Allah yang menimpa dirinya. Bagaimana kisahnya? Baca lanjutan artikel bawah ini:

Kisah Orang Shalih yang Selalu Berprasangka Baik Terhadap Takdir Allah

Masruq meriwayatkan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang tinggal di pedusunan Arab. Laki-laki ini memiliki hewan peliharaan yaitu seekor anjing, seekor keledai dan seekor ayam jantan. Binatang-binatang itu sangat bermanfaat bagi dirinya, ayam jantan membangunkannya untuk sholat Subuh, keledai membantunya untuk membawa barang-barang bawaan, dan anjing menjaganya dari gangguan orang-orang yang ingin berbuat jahat.

Masruq melanjutkan kisahnya, “Pada suatu hari datang serigala memangsa ayam jantannya, ia pun bersedih hati dengan hilangnya ayam jantan tersebut. Akan tetapi ia adalah seorang yang shalih, ia berkata, ‘Semoga kejadian ini menjadi suatu kebaikan’.

Beberapa hari kemudian, serigala itu datang lagi dan menggigit perut keledainya, sehingga keledai itu mati. Ia pun bersedih hati dengan kematian keledainya tersebut. Namun, karena ia adalah seorang yang shalih, ia tetap mengatakan, ‘Semoga kejadian ini juga menjadi suatu kebaikan’. Beberapa hari setelah kematian keledainya, anjingnya pun mati. Ia semakin sedih, akan tetapi ia tetap mengatakan, ‘Semoga kejadian ini juga menjadi suatu kebaikan’.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, ketika ia bangun pada suatu pagi, ia melihat orang-orang yang ada di sekeliling lingkungannya telah ditawan, dan yang tinggal hanyalah ia dan keluarganya.”

Masruq berkata, “Sesungguhnya, hal yang menyebabkan mereka ditawan adalah karena mereka memiliki binatang-binatang peliharaan yang selalu menimbulkan keributan dari suara mereka, sementara ia tidak lagi memiliki binatang peliharaan yang dapat menimbulkan keributan, sebab anjing, keledai, dan ayam jantannya telah mati. Maka kematian binatang-binatang peliharaannya pun benar-benar telah menjadi suatu kebaikan baginya, sesuai yang telah ditakdirkan Allah SWT.”

(Lihat, Ar-Ridha ‘Anillah (28), karangan Ibnu Abu Ad-Dunya. Al Ihya ‘(IV/336), Ittihaf As-Sadah (XII/533).

Begitulah kisahnya. Jadi dalam kisah di atas orang shalih itu selalu memiliki harapan positif terhadap apa pun kondisinya. Dia selalu berprasangka baik pada Allah SWT.

Terkait harapan dan doa, Allah SWT pun dalam Al-Quran berfirman:

Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat-Ku untuk kalian. (QS. Ibrahim:7)

Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian. (QS. Al-Baqarah:152)

Berdoalah kalian kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan bagi kalian. (QS.Ghafir:60)

Tidaklah Allah mengazab mereka, selama mereka memohon ampun (Beristigfar kepada Allah). (Al-Anfal:33)

Edwin
  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *