Kata kata Bijak Motivasi Islami Terbaru tahun 2020

  • Whatsapp
Kata-kata-mutiara-islam

Kata-kata bijak Islami berasal dari berbagai sumber terpercaya, seperti dari Al-Quran, hadist, atau ucapan tokoh-tokoh Islam.

Berbagai sumber tersebut bisa dijadikan motivasi untuk menyemangati diri. Terlebih jika sumbernya dari Al-Quran bisa menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan.

Ingin tahu apa saja kata-kata Islami yang bisa dijadikan mutiara kehidupan?

Cek kutipannya di bawah ini!

Kata-kata Motivasi Islami untuk Sabar

 “Wahai mereka yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan solat. Sesungguhnya Allah bersama-sama dengan orang yang sabar.” ~ Q.S. Al-Baqarah 153

Terjemahan ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam kondisi apa pun. Tidak sedikit manusia yang lari ke hal-hal tercela ketika ditimpa kesulitan. Seolah lupa bahwa Allah tidak pernah tidur dan selalu ada untuk mendengarkan keluhan hamba-Nya.

Sholat dan sabar adalah dua kunci utama untuk menjalani kehidupan dan melalui berbagai lika-liku permasalahan, baik itu besar atau kecil.

 “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkan lah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertawakalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” ~ Q.S. Al-Imran 200

Sabar adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam berbagai kondisi. Seperti halnya dalam kondisi peperangan sekalipun. Membela umat dan masyarakat adalah salah satu perbuatan yang diperintahkan Allah SWT, tentunya dengan disertai tawakal kepada Allah SWT.

Para pejuang Islam zaman dulu berperang dengan penuh kesabaran. Bagi mereka kalah atau menang semuanya hanya diserahkan kepada Allah SWT. Jika menang, mereka hidup dengan mulia, jika kalah maka mereka wafat dengan syahid.

“Orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” ~ Q.S. Al-Baqarah 277

Perintah untuk sholat, berzakat, puasa, dan sebagainya telah Allah SWT tetapkan kepada seluruh umat Islam. Allah memberikan ganjaran atas semua perintah yang Dia berikan. Salah satu hal yang akan dirasakan pelaksana sholat serta pemberi zakat adalah tidak pernah bersedih hati.

Memberikan zakat sama dengan berbagi kebahagiaan melalui rezeki yang Allah titipkan. Allah SWT senantiasa mengganti apa yang dikeluarkan melebihi ekspektasi kita selaku umat manusia.

 “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ~ Q.S. Ibrahim 7

Allah SWT sudah memperkenalkan kita dengan istilah win solution dengan sabar dan syukur melalui Firmannya.

Tatkala kita mensyukuri nikmat Allah maka Allah akan memberikan nikmat lebih besar lagi.

Lain hal jika kita kufur kepada nikmat Allah maka Allah tidak segan untuk mencabut nikmat tersebut dari kita.

Segala yang Allah berikan adalah titipan, bisa jadi kapan saja Dia ambil dan kita harus bersabar serta ikhlas.

Baik di dunia atau di akhirat, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.

Kata-kata Mutiara Islam tentang Wanita

 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik(pula).” ~ Q.S. An-Nur 26

Terjemahan ayat di atas adalah terjemahan paling familiar yang dapat kita dengar dari mana saja.

Erat kaitannya dengan jodoh, bahwa lelaki yang baik diciptakan untuk wanita yang juga baik. Artinya, jika kita hendak mendapatkan jodoh yang soleh, maka solehakan dulu diri kita.

Kecil kemungkinannya jika seorang wanita bukan ahli ibadah mendapatkan pria ahli ibadah.

Semua memang tidak mungkin tidak terjadi jika Allah sudah berkehendak.

Namun, sebelum mendapatkan suatu hal yang baik, seyogyanya kita memantaskan diri dulu untuk menerima kebaikan tersebut.

Sebagaimana laki-laki, hak-hak wanita juga terjamin dalam Islam. Pada dasarnya, segala yang menjadi hak laki-laki, ia pun menjadi hak wanita. Agamanya, hartanya, kehormatannya, akalnya dan jiwanya terjamin dan dilindungi oleh syariat Islam sebagaimana kaum laki-laki.

Di antara contoh yang terdapat dalam al Qur`an adalah: wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beribadah dan mendapat pahala: “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” ~ Q.S. An-Nisa 124

Ketimpangan sosial antara laki-laki dan wanita kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dalih, “bukan kodratnya” para wanita kerap dibenturkan dengan batasan-batasan yang dibuat oleh manusia.

Batasan yang dibuat manusia dalam arti melebih-lebihkan dari apa yang telah diperintahkan Allah SWT dan diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Islam ternyata sudah menyamaratakan posisi wanita dan pria dalam hal beribadah. Tidak ada satu pun pembeda antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan pahala dan kesempatan masuk surga, kecuali caranya mungkin bisa berbeda.

 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” ~ Q.S. Al-Imran 14

Terjemahan ayat ini selaku pengingat bagi kaum pria bahwa segala sesuatu hanya titipan. Berbagai keindahan yang hadir dari wanita, anak, serta harta benda adalah ujian untuk mempertebal keimanan.

Memiliki istri serta anak perempuan adalah tanggung jawab besar suami dan ayah sebab di akhirat kelak akan dipertanyakan tanggung jawabnya. Kewajiban Orang laki-laki untuk mengingatkan anak serta istri menutup aurat serta senantiasa ada di jalan kebaikan.

Kata-kata Bijak Islami dari Hadist

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” ~ Hadits Hasan Shahih (al-Albani): Sunan Abi Dawud, kitab al-Libas, nomor 4031. Bulugh al-Maram, nomor 1514.

Hadist ini termasuk hadist yang familiar karena kerap diutarakan untuk mengingatkan umat Islam yang kebablasan mengikuti budaya non Muslim. Indonesia adalah negara dengan banyak perbedaan, termasuk salah satunya perbedaan agama.

Menyerupai suatu kaum bukan berarti tidak memberikan toleransi terhadap umat agama lain. Saling menghargai adalah keharusan, namun ada batas-batas dimana kita tidak bisa melakukan yang kaum lain lakukan.

“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” ~ Hadits Hasan (Al-Albani): Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad nomor 594.

Saling berbagi hadiah adalah hal yang menyenangkan untuk penerima hadiah. Namun, orang yang memberinya juga akan diganjar pahala dan kesenangan yang tidak kalah dari penerima hadiah.

Keuntungan paling nikmat untuk kedua belah pihak adalah terjaganya tali silaturahmi yang mendatangkan sumber rezeki. Silaturahmi juga bisa membawa dampak positif terhadap panjang dan berkahnya usia.

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allāh, maka Allāh akan memahamkannya (diberi kepahaman) dalam urusan agama.…” ~ Shahih Muslim nomor 1037.

Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Termasuk ketika kita mendapatkan segala kebaikan di dunia ini, tidak lain itu adalah atas kekuasaan Allah SWT.

Dalam suatu hal, terkadang si A mudah memahami sesuatu, sementara si B tidak demikian. Terkadang kita lupa untuk bersyukur kepada Allah ketika ada di posisi A. Padahal, pemahaman itu tidak akan ada tanpa izin Allah.

Dari ‘Aisyah (رضي الله عنها) berkata: “Rasulullāh (‎صلى الله عليه وسلم) bersabda: ‘Barang siapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami maka amal perbuatan itu tertolak!’.” ~ Shahih Muslim nomor 1718 (كتاب الأقضية), al-Qowa’id al-Fiqhiyyah. II/26.

Istilahnya bid’ah, ketika umat Islam melakukan suatu hal yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasul. Perkara apa itu bid’ah, sebaiknya kita pelajari lebih dalam dari sumber terpercaya.

Namun, intinya jika menurut hadist di atas, Rasul adalah teladan umat Islam. Apa pun kebaikan yang dijalankan Rasul harus menjadi teladan untuk kita selaku umatnya.

“Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaklah dia memberi tau bahwa dia mencintainya.” ~ Hadits Hasan (al-Albani): at-Tirmidzi nomor 2392.

Konteks hadist di atas bukan berarti menyatakan cinta kepada lawan jenis dan memintanya untuk menjadi pacar. Konteksnya lebih kepada mengutarakan perasaan agar terbina rasa kasih sayang sesama umat Islam.

Jika memang rasa sayang itu ditujukan kepada lawan jenis, sebaiknya diutarakan dengan maksud mengajak ke jenjang lebih serius, seperti membina rumah tangga.

“Sesungguhnya setiap amal itu (tergantung) pada niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan  yang dia niatkan.” ~ Hadits Shahih (al-Albani): Shahih Bukhari nonor 1, 6689, 6953, Shahih Muslim nomor 1907, Sunan Abi Dawud nomor 2201, Sunan an-Nasa’i nomor 3794.

Banyak orang beramal, namun belum tentu mendapatkan pahalanya. Salah satu hal yang menghalangi pahala atas perbuatan terpuji adalah diumbarnya perbuatan tersebut dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia.

Ada istilahnya ketika kita memberi dengan tangan kanan maka sebaiknya tangan kiri tidak mengetahuinya. Maksudnya adalah sebaiknya tatkala kita berbuat kebaikan, tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya.

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” ~ Shahih: Ibnu Majah no. 224 (كتاب المقدمة), dari Sahabat Anas bin Malik.

Menuntut ilmu itu keharusan yang sudah diperintahkan oleh Allah SWT sedari dulu kala. Maka tidak benar jika ada pembatasan usia, pembatasan waktu, dan sebagainya terkait ilmu untuk dipelajari.

Ilmu itu sifatnya tidak terbatas, apa pun baik untuk dipelajari asalkan dipergunakan untuk hal positif. Ilmu akan lebih bermanfaat lagi apabila dibagikan kepada orang banyak.

“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqamahlah (berpegang teguh kepada ketaatan).” ~ Shahih Muslim nomor 38.

Sebelum semua manusia terlahir ke dunia, konon ruh kita telah membuat perjanjian kepada Allah untuk senantiasa beriman kepada-Nya. Sayangnya, Ketika di dunia, umat manusia terbagi menjadi beberapa golongan.

Bersyukurlah kita yang menjadi umat Islam sedari lahir karena sudah diberikan keselamatan sedari kita belum mengerti apa-apa. Jika sudah dianugerahi iman, sepatutnya hal tersebut Kita pegang teguh dan konsisten dipertahankan.

“Tinggalkan apa yang engkau ragukan dan kerjakan apa yang engkau tidak ragu.” – Hadits Shaih (Darussalam): Sunan an-Nasa’i nomor 5711, an-Nawawi, Jami at-Tirmidzi nomor 2518 dengan lafazh (دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ); “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu, Karena sesungguhnya Kebenaran adalah Ketentraman dan Dusta adalah Keraguan.” Dari al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib.

Ragu-ragu adalah sifat manusia. Tidak heran jika kita kerap dilanda rasa tersebut. Banyak hal menjadi tidak maksimal tatkala kita melakukan atau mengambil sesuatu dengan perasaan ragu.

Islam ternyata tidak menganjurkan kita untuk mengambil keputusan dikala ragu. Sebaiknya perkara yang kita tidak ketahui hukumnya segera ditinggalkan, daripada menjadi mudharat. Misalkan, kita ragu-ragu terhadap jenis daging yang dimakan ketika berlibur ke luar negeri.

Kata-kata Bijak Islami dari Tokoh-tokoh Islam

”Sesungguhnya aku telah mengatur urusan kamu, tetapi aku bukanlah org yg paling baik di kalangan kamu maka berilah pertolongan kepadaku. Kalau aku bertindak lurus maka ikutilah aku tetapi kalau aku menyeleweng maka betulkan aku!” ~ Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ungkapan Sayyidina Abu Bakar di atas merupakan ajakan untuk berbuat kebaikan kepada sesama teman. Teman yang baik senantiasa hadir untuk selalu mengingatkan dalam kebaikan dan keburukan.

Tatkala berbuat baik, maka hal tersebut sangat dipersilakan untuk ditiru. Namun, ketika sebagai manusia khilaf, teman yang baik juga akan selalu mengingatkan. Bukan meninggalkan, terlebih jika membicarakan di belakang.

“Barang siapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barang siapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.” ~ Umar Bin Khattab

Sebelum beriman kepada Allah, Umar adalah musuh Rasul yang tergolong kejam dan keras menentang ajaran Islam. Namun, hidayah datang kepada Umar membuat Umar menjadi salah satu sahabat nabi yang paling membela Islam.

Bahkan rasa keimanannya tersebut menimbulkan rasa takut dalam berbagai situasi terhadap Allah SWT. Allah Maha Berkehendak, bahkan terhadap hati Umar yang semula keras.

“Barang siapa hidupnya dalam keseimbangan dunia dan akhirat, dia disenangi Allah; barang siapa meninggalkan perbuatan dosa, dia disenangi oleh para malaikat; dan barang siapa meninggalkan keserakahan terhadap kaum Muslimin, dia dicintai mereka.” ~ Utsman Bin Affan

Ada tiga perkara yang sangat menguntungkan manusia, pertama ketika hidupnya menemui keseimbangan untuk urusan dunia dan akhirat, Allah senantiasa akan menyayanginya. Misal, seimbang antara pekerjaan dengan ibadah.

Kedua, sudah jelas jika meninggalkan dosa maka malaikat akan menyayangi manusia tersebut. Terakhir, sesama manusia juga akan saling menebar kasih sayang jika menanggalkan keserakahan.

“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.” ~ Ali Bin Abi Thalib

Kata-kata mutiara dari Ali Bin Abi Thalib di atas menerangkan bahwa ilmu jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan harta. Ilmu ketika digunakan tidak akan berkurang, justru semakin bertambah.

Lain hal dengan harta yang apabila terus digunakan justru akan habis. Harta sebanyak apa pun tidak bisa menjaga pemiliknya, tidak seperti ilmu yang bisa menjadi perisai tatkala manusia masih hidup atau sudah meninggal.

“Jangan sampai ayam jantan lebih pandai darimu. Ia berkokok di waktu subuh, sedang kamu tetap lelap dalam tidur.” ~ LH

Kata-kata di atas merupakan sindiran terhadap orang-orang yang malas bangun untuk sholat Subuh. Hawa dingin dan suasana sepi memang sangat menggoda untuk terus kembali tidur tanpa sholat Subuh.

Dengan pengibaratan ayam yang lebih dulu berkokok, diharapkan umat Muslim lebih rajin bangun sholat Subuh karena terdapat ganjaran pahala yang besar bagi yang melaksanakan.

“Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu.” ~ Imam Syafi’i

Konon ada tiga amalan yang tidak pernah putus pahalanya meskipun Kita sudah meninggal. Pertama, doa anak soleh dan solehah, ilmu yang bermanfaat dan amalkan, serta amal jariah.

Tidak akan berkah ilmu yang dimiliki seseorang jika ilmu tersebut hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ilmu yang diamalkan mampu menjadi penolong di akhirat kelak. Bayangkan jika Anda mengajarkan ilmu ke 5 orang, kemudian 5 orang itu menyebarkannya lagi ke 10 orang.

“Barang siapa tidak peduli terhadap nasib agama, berarti ia tidak punya agama, barang siapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana, maka Islam tidak butuh kepada mereka.” ~ Imam Al-Ghazali

Potret membela agama Islam dapat kita lihat realisasinya dari zaman sekarang. Pertama harus dimulai dari diri sendiri dulu, misal dari hal terkecil seperti sholat lima waktu.

Tidak perlu neko-neko dengan jihad yang besar, lebih dulu dan paling penting jihad melawan hawa nafsu sendiri saja sudah termasuk upaya untuk mengagungkan agama Islam.

Baca kata kata bijak islami lainnya di sini.

Kata-kata Bijak Islami Singkat

“Iri hati dan dengki merupakan dosa dan sekaligus akar yang menumbuhkan dosa-dosa lain.”

Iri hati dan dengki adalah dua hal yang sulit dihalau sebab bisa datang dalam bentuk sekecil apa pun, bahkan kita kerap tidak menyadarinya. Iri hati melihat teman berprestasi pelan-pelan bisa menjadi penyakit hati.

Dengki melihat nikmat orang lain lebih baik, juga bisa menimbulkan penyakit hati. Kenikmatan yang diterima orang lain dapat mendatangkan dua hal, pertama iri hati dan kedua motivasi.

“Bermimpi tanpa mau melakukan sesuatu untuk membuat mimpi menjadi kenyataan menggiring kita kepada kehidupan yang tidak pernah menghasilkan buah.”

Semua orang pasti memiliki mimpi atau angan-angan demi mendapatkan masa depan lebih baik. Namun, dalam realisasinya tidak semua impian itu diusahakan untuk menjadi kenyataan.

Kunci keberhasilan adalah memulai semua impian dengan langkah kecil. Konsisten meraih apa yang diinginkan juga kunci penting. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mudah menyerah, sebaliknya umat Islam justru harus menjadi pribadi yang tangguh dan giat berusaha.

“Keuntungan hakiki adalah keuntungan yang tidak hanya menguntungkan diri pribadi, tapi juga menguntungkan sebanyak mungkin hamba-hamba Allah lainnya. Usahakanlah apa yang menjadi nikmat tidak menjadi musibah bagi orang lain.” ~ Aa Gym.

Keuntungan untuk diri sendiri tidak akan memberikan nilai lebih dibandingkan dengan keuntungan itu disebarkan kepada banyak orang. Seperti halnya ilmu yang dikuasai tidak akan berpengaruh banyak jika hanya disimpan sendiri.

Banyak hal positif apabila Anda mengamalkan kebaikan untuk banyak orang, seperti halnya ilmu. Semakin banyak orang yang berilmu, semakin besar pahala yang dipersiapkan Allah SWT untuk Anda.

“Setiap ilmu mesti ada permulaanya, tetapi sama sekali tidak ada pengakhirannya. Kita harus menyadari dan mengakui bahwa apa yang kita ketahui dari ilmu-ilmu jauh lebih sedikit daripada yang tidak kita ketahui.”

Ada istilahnya kita diminta menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Hal itu hanya perumpamaan yang memiliki makna senada dengan ungkapan di atas. Dimana ilmu jika terus dicari tidak akan pernah habis.

Orang yang berilmu akan selalu merasa dirinya tidak tahu apa-apa, bukan sebaliknya. Perasaan tidak mengetahui apa-apa ini yang mendorong orang untuk senantiasa terus belajar banyak hal.

“Inna Sholaati Wanusuki Wamahyaaya Wamamati Lillahi Robbil ‘Alamin”, Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Rabb Alam semesta.”

Jika kita insyaf setiap waktu dan memaknai kata-kata di atas, niscaya kehidupan kita tidak akan pernah sunyi. Dalam sholat, kita sudah menyerahkan hidup, mati, sholat, dan semua urusan hanya kepada Allah SWT.

Jika kalimat di atas diulang-ulang, niscaya tidak ada satu pun urusan yang membuat kita gundah gulana. Sebab kita sadar bahwa semua yang dimiliki semata titipan dari Allah SWT.

“Emosi dan akal ibarat dua orang sopir, keduanya berada di dalam tubuh kita yang mirip sebuah mobil. Pada suatu saat hanya satu saja sopir yang memegang setir. Artinya , tidak mungkin dua sopir memegang kendali secara bersamaan. Kecuali keduanya menuju arah yang sama.

Emosi dan akal pikiran adalah dua elemen berbeda yang menjadi satu kesatuan dalam tubuh manusia. Jika diibaratkan dengan wujud, emosi adalah wanita dan akal pikiran adalah pria.

Keduanya harus berjalan beriringan dan secara seimbang. Karena jika hanya dijalankan salah satunya maka akan muncul kepincangan. Dua hal diatas harus ditempatkan pada porsinya, tidak bisa lebih banyak salah satunya saja.

“Orang yang sering meninggalkan shalat adalah orang yang mengabaikan agama dan seorang wanita seharusnya memilih calon pemimpin yang beriman, bukan yang suka mempermain kan agama.”

Sholat adalah tiang agama. Seberapa besar pun dosa Anda, sholatlah untuk mempertahankan tiang agama Islam. Sholat juga merupakan upaya untuk melembutkan hati dan senantiasa menenangkan hati dari berbagai permasalahan.

Orang yang menegakkan sholat lima waktu ditambah sholat sunnah sama dengan menegakkan tiangnya agama. Secara tidak sadar, orang tersebut juga sudah berjihad membela agama Islam.

“Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan.”

Dengan kata lain, kata-kata di atas meminta kita untuk sedikit berkata-kata, namun lebih banyak bertindak. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang cenderung banyak omong tidak akan disukai orang lain.

Sebaliknya, orang yang hanya berkata-kata seperlunya, namun bertindak semaksimal mungkin dalam kebaikan jauh lebih disukai banyak orang. Memberikan bukti jauh lebih baik dibandingkan mengumbar janji.

Sumber gambar: Pixabay.com

Edwin
  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment