Hukum Tidak Sholat Berjamaah di Masjid Saat Wabah Penyakit Corona

  • Whatsapp

Saat ini dunia dihebohkan dengan munculnya sebuah wabah baru berupa penyakit yang sifatnya menjangkiti orang-orang dengan sangat cepat.

Penyakit tersebut disebut dengan Covid-19 atau yang lebih dikenal masyarakat dengan Virus Corona.

Sejak awal kemunculannya di Wuhan, China, pertengahan desember 2019 lalu, Virus Covid-19 tersebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia.

Bahkan, Indonesia yang tadinya aman dan tidak memiliki satu kasus positif Covid-19, kini harus menghadapinya sebagai wabah yang demikian cepat perkembangannya.

Sholat-Masjid

Melihat gentingnya kondisi ini, menjadikan pemerintah mengeluarkan keputusan berupa himbauan untuk menghentikan berbagai perkumpulan-perkumpulan, menghentikan proses belajar mengajar di luar dan menggantikannya dengan proses belajar di rumah masing-masing, bekerja di rumah, dan termasuk tidak melaksanakan sholat berjamaah dan sholat jumat di masjid-masjid sebagaimana biasanya, tetapi menggantikannya dengan melaksanakan sholat di rumah masing-masing.

Himbauan pemerintah agar menghentikan sholat jumat dan berjamaah di masjid-masjid dan menggantikannya dengan sholat di rumah masing-masing mendatangkan reaksi yang berbeda-beda di kalangan masyarakat.

Ada yang menerima dan menganggap pemerintah telah menempuh langkah yang benar, tetapi ada juga yang menuding pemerintah dengan berbagai tudingan.

Sebagai seorang muslim, kita tentu menghadapi segala sesuatu berdasarkan bimbingan islam.

Lantas bagaimanakah bimbingan islam terkait dengan hukum sholat di rumah saat wabah Corona?

Silahkan baca kelanjutan ulasan di bawah ini, yang akan saya paparkan berdasarkan dalil-dalil dan bimbingan para ulama.

Detail Hukum tidak Sholat Berjamaah di Masjid Saat Wabah Corona

Hukum sholat di rumah dan tidak melaksanakan sholat jumat dan sholat berjamaah lima waktu di masjid saat wabah Corona merupakan hal yang diperbolehkan dan termasuk rukhshooh/keringanan.

Hal tersebut berdasarkan dalil-dalil berikut :

1.Tidak Boleh Memberikan Mudhorat

Hukum-sholat-di-rumah-saat-wabah-corona

Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu Anhu di  atas menunjukkan bimbingan syariat dalam mencegah diri sendiri dari mudhorat dan mencegah diri kita dari memberikan mudhorat dan kejelekan bagi orang lain.

Terkait dengan covid-19, tidak diragukan kalau ini merupakan mudhorat yang luar biasa. Apalagi sifatnya yang menular, di mana satu orang bisa menjadi sebab satu kota termudhorotkan.

Dengan melaksanakan sholat di rumah masing-masing, penyebaran Virus Covid-19 bisa diredam.

Berbeda jika sholat berjamaah dan sholat jumat tetap dilaksanakan, di mana orang-orang berkumpul di dalam masjid melaksanakannya.

Jika satu saja terdapat seseorang yang terinfeksi Virus Corona dalam keadaan dia tidak mengetahui atau menyadarinya, maka berapa potensi orang-orang yang bisa terkena virus tersebut di dalam masjid.

Selanjutnya orang-orang yang berada di dalam masjid tadi yang sudah mulai terinfeksi Virus Corona namun belum menyadarinya pulang ke rumah masing-masing, mereka berpotensi sangat besar menularkan virus tersebut kepada istri dan anak-anaknya.

Ibarat mata rantai, virus tersebut akan berpindah terus. Bayangkan betapa besar bahayanya.

Oleh karena itu, melaksanakan sholat di rumah masing-masing akan memutuskan rantai penularan virus tersebut.

2.Keringanan Sholat Di Rumah Karena Hujan

Sholat-di-rumah-saat-wabah-corona-1

Al-Imam Ibnu baththol Rahimahullah berkata :

أَجْمَعَ العُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ التَّخَلُّفَ عَنِ الجَمَاعَةِ فِي شِدَّةِ المَطَرِ وَالظُّلُمَةِ وَالرِّيْحِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، مُبَاحٌ.

“Para ulama berijma’ (bersepakat) kalau meninggalkan shalat berjamaah saat hujan deras, malam yang gelap, berangin kencang, dan udzur (halangan) lainnya adalah boleh.” (Syarh Al Bukhari, Oleh Al-Imam Ibnu Baththol, 3/364)

Jika sholat berjamaah boleh ditinggalkan dan seseorang sholat dirumahnya disebabkan karena adanya mudhorat berupa hujan deras yang bisa membasahi pakaian dan angin kencang, maka tentu saja lebih boleh lagi meninggalkan sholat berjamaah karena pertimbangan Virus Corona yang sifatnya mematikan dan bisa menularkan kepada siapapan dalam jumlah yang tidak terbatas dan dalam keadaan tidak bisa diketahui sama sekali keberadaan virus tersebut dalam tubuh seseorang sebelum 14 hari.

Tentu saja akan memberikan mudhorat yang sangat besar jika ada seseorang yang barusan tertular beberapa hari (belum genap 14 hari) lalu menghadiri sholat jumat dan sholat berjamaah di masjid.

Tentu penularan akan semakin tidak terkendali.

Baca juga: Doa mohon kesembuhan dari berbagai penyakit

3.Mendahulukan Untuk Mencegah Mudhorat yang Lebih Besar

Dalam sebuah kaedah disebutkan :

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

“Mencegah mudhorat/kejelekan lebih didahulukan dari mengambil manfaat.”

Al-Imam As-Suyuthi Rahimahullah berkata :

إذا تَعارضَت مفسَدةٌ ومصلَحةٌ؛ قُدِّم دفعُ المفسَدةِ غالبًا؛ لأنَّ اعتِناءَ الشارعِ بالمنهِيَّات أشَدُّ مِن اعتنائِه بالمأمورات

“Jika mafsadat (kerusakan/kejelekan) saling bertentangan dengan maslahat (kebaikan/manfaat), maka lebih umumnya lebih didahulukan mencegah mafsadat, karena perhatian syariat terhadap larangan-larangan lebih besar dibandingkan perhatian syariat terhadap perintah-perintah.” (Kitab Al-Asybah Wa An-Nazhaid 1/87)

Kaedah di atas diambil dari dalil-dalil syariat. Kaedah tersebut menunjukkan bahwa menolak mudhorat atau kejelekan lebih didahulukan dari meraih dan mengambil manfaat.

Tidak diragukan lagi bahwa mudhorat dan kejelekan yang diakibatkan oleh Virus Corona sangatlah besar karena bentuk penularannya sangat cepat, dengan sangat mudah dan beragam.

Tentu saja sisi bahaya dan kejelekan yang bisa dihidari jika meninggalkan sholat jumat dan sholat berjamaah di saat wabah Corona ini merebak lebih didahulukan daripada mengambil kemanfaatan dari melaksanakan sholat jumat dan sholat berjamaah.

4.Mentaati Pemerintah

Allah Azza Wajalla berfirman :

Hukum-tidak-sholat-berjamaah-di-masjid-saat-wabah-corona-2

Dalam sebuah hadits disebutkan :

Sholat-berjamaah-di-rumah-3

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah berkata tentang hadits di atas :

فهذه الأحاديث مع الآية الكريمة كلها تدل على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمور في المعروف؛ لما في ذلك من الخير العظيم، واستِتْباب الأمن، ونصر المظلوم، وردع الظالم، وغير هذا من الفوائد العظيمة في السمع والطاعة في المعروف

“Maka hadits-hadits dan ayat yang mulia tersebut menunjukkan wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang baik, disebabkan pada ketaatan tersebut terdapat kebaikan yang besar, kokohnya keamanan, tertolongnya orang yang dizholimi, tertahannya orang yang zholim (dari kezholimannya), dan selain itu dari manfaat-manfaat yang besar dalam mendengar dan taat pada perkara yang baik.” (Lihat : https://bit.ly/ftwtaat).

Terkait dengan ketaatan, Pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah sudah mengeluarkan himbauan untuk meninggalkan sholat berjamaah dan sholat jumat dan mencukupkan diri dengan sholat di rumah masing-masing selama wabah ini masih menyebar.

Karena himbauan ini demi kebaikan dan bukan merupakan kejelekan, maka wajib bagi kita untuk melaksanakan himbauan tersebut sebagai bentuk ketaatan.

Asy-Syaikh Sulaiman Ar-Rhuhaily Hafizhahullah berkata :

Hukum-Sholat-jumat-di-rumah-4

“Jika terdapat Virus Corona di suatu wilayah atau negara melarang dari perkumpulan-perkumpulan,  maka dibolehkan meniadakan sholat jumat dan sholat berjamaah dan diberikan keringanan bagi manusia untuk melaksanakan sholat di rumah-rumah mereka dan melaksanakan sholat berjama’ah bersama keluarga mereka, karena ini lebih parah daripada tanah berlumpur dan hujan yang dimana dengan kondisi itu diberikan keringanan untuk meninggalkan sholat jumat dan sholat berjamaah. Barangsiapa yang terinfeksi atau terindikasi kalau terinfeksi, maka diharomkan baginya menghadiri sholat jumat dan sholat berjamaah. Semoga Allah menjaga kita semua.” (Twitter.com/solyman24).

Fatwa Kibar Ulama Saudi Arabia Tentang Meniadakan Sholat Jumat dan Sholat Jamaah Karen Wabah Corona

الرياض 17 رجب 1441هـ الموافق 12 مارس 2020م واس

أصدرت هيئة كبار العلماء قرارها رقم ( 246 ) في 16 / 7 / 1441هـ، فيما يلي نصه :-

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:

فقد نظرت هيئة كبار العلماء في دورتها الاستثنائية الرابعة والعشرين المنعقدة بمدينة الرياض يوم الأربعاء الموافق 16 / 7 / 1441هـ فيما عرض عليها بخصوص الرخصة في عدم شهود صلاة الجمعة والجماعة في حال انتشار الوباء أو الخوف من انتشاره، وباستقراء نصوص الشريعة الإسلامية ومقاصدها وقواعدها وكلام أهل العلم في هذه المسألة فإن هيئة كبار العلماء تبين الآتي:

أولاً: يحرم على المصاب شهود الجمعة والجماعة لقوله صلى الله عليه وسلم ( لا يورد ممرض على مصح ) متفق عليه، ولقوله عليه الصلاة والسلام: ( إذا سمعتم الطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم فيها فلا تخرجوا منها ) متفق عليه.

ثانياً: من قررت عليه جهة الاختصاص إجراءات العزل فإن الواجب عليه الالتزام بذلك، وترك شهود صلاة الجماعة والجمعة ويصلي الصلوات في بيته أو موطن عزله، لما رواه الشريد بن سويد الثقفي رضي الله عنه قال: (كان في وفد ثقيف رجل مجذوم فأرسل إليه النبي صلى الله عليه وسلم إنا قد بايعناك فارجع) أخرجه مسلم.

ثالثاً: من خشي أن يتضرر أو يضر غيره فيرخص له في عدم شهود الجمعة والجماعة لقوله صلى الله عليه وسلم: ( لا ضرر ولا ضرار) رواه ابن ماجه. وفي كل ما ذكر إذا لم يشهد الجمعة فإنه يصليها ظهراً أربع ركعات.

هذا وتوصي هيئة كبار العلماء الجميع بالتقيد بالتعليمات والتوجيهات والتنظيمات التي تصدرها جهة الاختصاص، كما توصي الجميع بتقوى الله عز وجل واللجوء إليه سبحانه بالدعاء والتضرع بين يديه في أن يرفع هذا البلاء قال الله تعالى: ( وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم )، وقال سبحانه: ( وقال ربكم ادعوني استجب لكم ) وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

// انتهى //

17:06ت م

0159

www.spa.gov.sa/2047028

PERNYATAAN RESMI HAIAH KIBARIL ULAMA (DEWAN ULAMA SENIOR) KERAJAAN SAUDI ARABIA

Haiah Kibari Ulama mengeluarkan keputusannya nomor (247) pada tanggal 22/7/1441 H berikut ini nash pernyataannya :

Maka sungguh Haiah Kibaril Ulama telah mengkaji dalam pertemuannya yang ke-25 yang diadakan di kota Riyadh pada hari Selasa tanggal 22/7/1441 H tentang apa yang berkaitan dengan bencana wabah Corona dan cepatnya penyebaran virus ini serta banyaknya korban meninggal disebabkan olehnya dan Haiah Kibaril Ulama juga telah mengkaji keputusan-keputusan ahli medis yang terpercaya yang berkaitan dengan bencana wabah ini yang dijelaskan oleh Menteri Kesehatan ketika beliau menghadiri pertemuan ini dimana keputusan ahli medis tersebut menekankan tentang bahaya virus ini dalam segi cepat menularnya virus ini diantara manusia yang bisa mengancam nyawa-nyawa mereka dan beliau menjelaskan bahwa selama tidak ada disana upaya-upaya penjagaan yang sifatnya menyeluruh dengan tanpa pengecualian maka bahayanya akan bertambah dan beliau juga menjelaskan bahwa perkumpulan-perkumpulan manusia merupakan sebab utama menularnya penyakit ini.

Dan Haiah Kibaril Ulama telah memaparkan nash-nash dalil syar’i yang menunjukkan wajibnya menjaga jiwa, diantaranya adalah firman Allah Azza wa Jalla :

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة.

“Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian dalam kebinasaan.” (Al Baqarah : 195).

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما.

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap kalian.” (An Nisa’ : 29).

Dan dua ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi sebab-sebab yang menghantarkan kepada binasanya jiwa, dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam menunjukkan wajibnya menjaga diri ketika menyebarnya wabah seperti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

لا يورض ممرض على مصح.

“Tidak boleh unta yang sakit dicampur dengan unta yang sehat.” Muttafaqn alaih.

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

فر من المجذوم كما تفر من الأسد.

“Larilah engkau dari orang yang menderita penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” Hadits riwayat Al Bukhari.

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

إذا سمعتم الطاعون بأرض فلا تدخلوها وإذا وقع بأرض وأنتم فيها فلا تخرجوا منها.

“Apabila kalian mendengar thaun melanda sebuah negeri maka jangan kalian memasuki negeri tersebut dan jika wabah thaun tersebut melanda sebuah negeri dalam keadaan kalian berada di negeri tersebut maka janganlah kalian keluar darinya.” (Muttafaqun Alaihi)

Dan telah tetap dalam kaedah-kaedah syariat yang mulia bahwa : “tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan orang lain”, dan diantara kaedah yang bercabang darinya adalah bahwa : “kemudharatan ditolak dengan semampunya.”

Dan dibangun atas dasar apa yang telah lewat maka diperbolehkan secara syariat menghentikan shalat Jumat dan shalat berjamaah bagi semua shalat fardhu di masjid-masjid dan mencukupkan dengan mengumandangkan adzan, dan dikecualikan darinya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan pintu-pintu masjid akan tertutup sementara waktu, dan syiar adzan tetap dikumandangkan di masjid-masjid, dan diucapkan dalam adzan :

صلوا في بيوتكم.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas bahwa beliau membimbingkan kepada muadzdzinnya untuk mengucapkannya dan beliau menyandarkannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan hadits ini dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim. Dan shalat Jumat diganti dengan shalat Zhuhur 4 rakaat di rumah.

Dan termasuk keutamaan Allah Taala bahwa barangsiapa yang terhalang oleh udzur untuk melakukan shalat Jumat dan shalat berjamaah di masjid maka pahala yang ia dapatkan sempurna berdasarkan keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا.

“Apabila seorang hamba sakit atau melakukan safar maka akan dicatat baginya semisal pahala amalan yang ia lakukan ketika mukim dan sehat.” (Hadits riwayat Al Bukhari)

Dan Haiah Kibaril Ulama mewasiatkan semuanya untuk mematuhi dengan sempurna keputusan yang dikeluarkan oleh instansi-instansi terkait berupa prosedur-prosedur penjagaan diri dari virus Corona dan saling tolong-menolong untuk melakukannya sebagai bentuk pengamalan terhadap firman Allah Taala :

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان.

“Dan hendaklah kalian saling tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa dan hangan kalian saling tolong-menolong di atas dosa dan permusuhan.” (Al Maidah : 2).

Dan mematuhi prosedur-prosedur ini termasuk bentuk tolong-menolong di atas kebaikan dan takwa, sebagaimana itu termasuk menempuh sebab-sebab yang diperintahkan oleh syariat kepada kita setelah tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Sebagaimana kita mewasiatkan semuanya untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dan berdoa serta memperbanyak beristighfar, Allah Taala berfirman :

ويا قوم استغفروا ربكم ثم توبوا إليه يرسل السماء عليكم مدرارا ويزدكم قوة إلى قوتكم.

“Wahai kaumku mintalah ampun kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepadaNya niscaya Allah akan mengirimkan air hujan kepada kalian dengan terus-menerus lagi deras dan Allah akan menambahkan kekuatan kepada kalian.” (Hud : 52).

Dan kekuatan disini mencakup kekuatan riski, diliputinya rasa aman dan kesehatan.

Kita memohon kepada Allah Taala agar mengangkat wabah ini dari hamba-hambaNya dan semoga Allah membalas Raja Salman selaku pelayan dua tanah haram yang mulia dan putra mahkota beliau yang terpercaya serta membalas pemerintah kita dengan kebaikan atas apa yang mereka curahkan berupa usaha-usaha yang patut disyukuri, pengaturan-pengaturan, langkah-langkah yang dengan keutamaan dari Allah Azza wa Jalla ikut berperan mencegah dari pengaruh wabah yang menyebar di dunia ini.

Sebagaimana kita memohon kepadaNya agar menjaga semua dengan penjagaan dariNya maka Allahlah sebaik-baik penjaga dan Dia maha penyayang.

وصلى الله وسلم على نبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

https://www.spa.gov.sa/2048662

Demikianlah penjelasan tentang hukum sholat di rumah saat Wabah Corona melanda.

Semoga artikel ini bisa memberikan bimbingan bagi kaum muslimin bagaimana seharusnya meyikapi himbauan dan anjuran pemerintah untuk meniadakan sholat jumat dan sholat berjamaah di masjid.

  • Whatsapp

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *