Ingin Berinvestasi ? Pahami dulu hal yang Perlu dilakukan Berikut ini!

Share

Apakah Anda sedang berniat melakukan investasi jangka panjang? Saat ini apa saja investasi Anda?

Dari hasil survei yang dilakukan suatu jasa konsultan keuangan, dapat disimpulkan bahwa tabungan, deposito, emas, dan asuransi adalah top 4 jawaban yang hampir selalu ditemui.

Read More

Jika Anda memahami mengenai apa itu investasi, pasti tahu bahwa asuransi bukanlah investasi.

Memahami Investasi

Dari fakta ini, bisa simpulkan bahwa sadar dan mau mengambil tindakan saja tidak cukup. Anda harus kenal dan paham, baru dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari setiap dana yang Anda tanamkan dalam produk keuangan.

Pakar investasi Warren Buffett mengatakan bahwa ”Someone’s sitting in the shade today because someone, planted a tree a long time ago”. 

Dari kalimat tersebut bisa dipahami bahwa investasi adalah proses jangka panjang dan membutuhkan beberapa kondisi untuk bisa mencapai tujuan.

Mengelola kekayaan ibarat mengelola sebuah taman yang indah. Dibutuhkan kombinasi antara tanah yang subur dan alat berkebun yang baik. Tanah subur tanpa alat yang tepat tentu tidak akan mencapai hasil kebun yang diimpikan.

Sama halnya dengan berinvestasi. Aset keuangan seperti deposito, surat berharga negara ritel,saham, dan reksa dana adalah alat untuk mencapai tujuan keuangan yang diinginkan. 

Baca juga: Kutipan kata tentang Investasi

Tiga Hal yang Sering dilakukan saat Berinvestasi

Langkah awal adalah mendata aset investasi apa saja yang telah dimiliki saat ini.

Untuk masing-masing aset, jawablah dengan jujur seberapa jauh pemahaman Anda terhadap produk ini.

Ada tiga jawaban yang paling memungkinkan:

  • Pembelian produk karena ada rencana keuangan yang telah dikonsultasikan kepada perencana keuangan independen.
  • Pembelian produk karena disarankan oleh customer service atau relationship manager dari lembaga keuangan tertentu.
  • Pembelian produk karena yang berjualan adalah teman ataupun saudara.

Ayo jujur, termasuk yang manakah Anda?

Tiga Pertanyaan Penting sebelum melakukan Investasi

Pakar keuangan, Prita Hapsari dalam tulisannya di Harian Kompas, menyarankan Anda untuk kritis saat memutuskan untuk membeli sebuah produk keuangan.

Membeli produk tanpa mengenal apalagi memahami, ibarat mengendarai mobil dengan mata tertutup. Bisa sampai tujuan? Mungkin saja. Namun, risiko yang dihadapi akan sangat berlipat ganda.

Ada tiga panduan yang sebaiknya ditanyakan kepada diri masing-masing 

Pertama, ”Why?”

Ada dua alasan , mendasar kenapa seseorang berinvestasi. Seseorang dapat mengharapkan adanya kenaikan modal ataupun mengharapkan adanya arus kas yang cukup rutin. 

Jika Anda adalah seorang investor saham, maka tentu mengharapkan adanya kenaikan modal dari sejak pertama menanamkan uang sammi dengan saat menjual kembali.

Anda tentu mengharapkan harga saham akan terus meningkat sehingga harga beli jauh di bawah harga jual. 

Jika Anda adalah seorang investor yang memiliki surat berharga negara ritel seperti Savings Bond Ritel (SBR), maka Anda mengharapkan pemasukan arus kas yang berkala dari kupon SBR. Bagaimana jika menginginkan keduanya?

Bisa saja terjadi bagi investor properti yang disewakan ataupun investor saham yang membagikan dividen.

Kedua, ”What do I Need?”

Pertanyaan ini harus dapat menjawab kebutuhan untuk membeli produk tersebut.

Jika kebutuhannya adalah jangka pendek, menabung adalah solusi terbaik. Jika kebutuhannya jangka menengah atau panjang, maka berinvestasi adalah hal yang bijaksana.

Dalam dunia keuangan, jangka pendek biasanya dikategorikan antara beberapa bulan hingga dua tahun. Sementara jangka menengah hingga lima tahun ke depan dan jangka panjang adalah selebihnya. 

Pemilihan produk investasi juga sebaiknya disesuaikan dengan jangka waktu berinvestasi. 

Contoh termudah adalah dana pendidikan anak. Apabila anak akan memasuki jenjang pendidikan tertentu (Sekolah Menangah) dalam waktu satu tahun, maka tabungan berjangka adalah pilihan yang cukup bijaksana.

Orangtua membutuhkan hasil investasi yang stabil karena uang akan dipakai dalam jangka pendek

Adapun jika anak akan memasuki jenjang pendidikan Sekolah Menengah dalam waktu 10 tahun, maka penggunaan tabungan berjangka berpotensi memberikan imbal hasil yang akan sangat kalah dengan tingkat inflasi.

Alternatif investasi yang lebih baik adalah reksa dana berbasis saham ataupun bisa juga investasi saham secara langsung.

Ketiga, “How Much do I Get?”

Penasehat keuangan kerap menyarankan kepada semua investor untuk selalu bersikap kritis terhadap potensi imbal hasil dari setiap produk yang dibeli.

Anda harus waspada jika ditawarkan produk yang imbal hasilnya jauh di atas rata-rata karena ada kemungkinan penawarannya merupakan penipuan berkedok lnvestasi.

Sebagai informasi, saat ini, Anda dapat mengharapkan imbal hasil berkisar 2-5 persen setahun untuk aset kas seperti deposito (pilih yang syariah), antara 5 persen dan 8 persen setahun untuk surat berharga negara ritel, dan di atas 10 persen setahun untuk reksa dana saham. 

Adapun potensi imbal hasil dari investasi pada saham langsung bisa saja dipatok hingga 15 persen, bahkan lebih, tetapi membutuhkan kejelian dalam memilih saham perusahaannya.

Setelah menjawab tiga pertanyaan di atas, Anda akan menyadari bahwa menginvestasikan uang hasil kerja dengan pemahaman akan kebutuhan masing-masing adalah langkah yang sangat bijak. 

Anda akan lebih memahami bagaimana uang tersebut bekerja dan keputusan investasi mana yang akan membantu mencapai apa yang diimpikan dan mana yang tidak.

Tidak ada orang lain yang lebih bertanggung jawab terhadap rezeki yang diamanahkan selain diri Anda sendiri.

Terakhir saran saya bagi Anda, pilihlah investasi berbasis syariah agar manfaat dunia dan akhirat bisa Anda rasakan.

Jalani Kehidupan terbaik Anda!

Sumber: Prita Hapsari Ghozie – Harian Kompas  

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *