Tips Membangun Komunikasi yang Baik dengan Anak

By | February 20, 2017

Dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini yang sudah semakin canggih dan lebih terbuka, anak sudah semakin lebih mudah mendapat informasi dari luar baik informasi yang berguna maupun informasi yang terkadang dapat memberikan dampak perkembangan yang tidak baik terhadap anak. Pola pengasuhan anak pun tidak bisa diterapkan dengan cara instan menyalahkan si anak, seperti kebanyakan orang tua zaman dulu terhadap anak nya (meskipun saat ini juga masih banyak orangtua yang menerapkannya), dimana para orang tua menerapkan pola pengasuhan yang keras terhadap anak-anaknya dan para orang tua menuntut anak-anaknya untuk menjadi seorang yang penurut sepenuhnya terhadap orang tuanya. Dengan menerapkan pola asuh seperti ini, dapat menghambat kreatifitas anak, kepercayaan diri serta keberanian berpendapat, serta hasilnya anak dapat menerapkan pola pengasuhan yang sama terhadap keturunannya.

 

 

Selama ini ternyata menurut hasil penelitian , dalam berkomunikasi kebanyakan orang tua kurang memperhatikan perasaan anak. Padahal kebutuhan dasar manusia termasuk anak-anak adalah diterima dan dimengerti perasaannya sehingga dia merasa aman dan nyaman. Justru yang sering terjadi adalah sebaliknya, kita menggunakan gaya komunikasi yang kurang tepat yang sering kita dapatkan dari pola asuh di lingkungan sekitar kita semenjak kita kecil, seperti mengabaikan perasaan ,membanding-bandingkan ,memerintah ,menyindir ,menyalahkan ,meremehkan ,mencap , mengancam ,mengkritik , membohongi dll. Seluruh gaya tersebut ternyata bukan  saja membuat perasaan anak menjadi tidak nyaman tetapi juga merusak harga diri dan kepercayaan diri anak kita.

Kita perlu memahami , mendengar dan mengamati sehingga kita bisa menangkap makna  di balik bahasa tubuh dan perasaan anak kita . Dengan memahami perasaan anak kita, kita menunjukkan bahwa kita respek padanya dan itu membuat anak kita merasa di hargai. Mengenali bahasa tubuh anak seperti menangis, tersenyum, melempar benda, menghentakkan kaki, cemberut ,diam ,dll. Bahasa tubuh mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam berkomunikasi , itu akan terkirim tanpa kita sadari . Bahasa tubuh tak dapat di kontrol dan tak pernah berdusta , ia menunjukkan bagaimana perasaan itu yang sesungguhnya. Lihatlah pada diri anak kita , mereka lebih dulu bicara dengan bahasa tubuhnya dari pada kata – kata.

Untuk itu para orang tua perlu merubah cara berkomunikasi, khususnya dengan anak – anak , mereka peka dengan bahasa tubuh kita , dalam berkomunikasi dengan anak , bahasa tubuh memainkan lebih dari 50% , 30% tinggi rendahnya suara , 20% isi pesan. Misal : Anak kita pulang sekolah cemberut , orangtua bertanya : Adik kenapa kok pulang sekolah cemberut , adik : Habisnya aku sebel, PR ku ketinggalan , padahal aku kan uda capek ngerjain PR nya semalam . Sebagai orang tua yang bersikap menyalahkan & menyindir : “ tuh kan kamu itu apa sih yang gak lupa “ , “ kerjaan kamu kan emang gitu lupa melulu “ , Kamu harus berapa kali sih ibu kasi tau supaya gak lupa – lupa terus dasar gak punya tanggungjawab”, sebagai orang tua yang memiliki komunikasi yang baik : “Ibu mengerti Adik pasti kesal dan malu ya PR nya ketinggalan, besok sebelum tidur , buku – buku yang akan di bawa di periksa lagi ya supaya kejadian hari ini tidak terulang lagi “, Perlu di ingat anak juga manusia yang memiliki perasaan , anak bukanlah boneka atau patung . Jika orang tua melakukan kesalahan dalam berkomunikasi seperti di atas maka yang terjadi adalah anak akan bingung dan kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri, tidak percaya terhadap perasaaannya sendiri, hal ini lah yang menjadi salah satu sebab utama rasa kurang percaya diri pada anak. Perasaan, memiliki sifat yang sama seperti Air, jika terhambat atau tidak mendapatkan jalan keluar, ia kan mencari jalan keluar sendiri bahkan arusnya bisa menjadi sangat deras seperti air bah yang mampu membobol bendungan.

Nah, marilah kita memperbaiki pola berkomunikasi dengan anak kita agar pesan – pesan yang ingin kita sampaikan dapat di terima dan di amalkan oleh anak – anak kita, dimana kita sama – sama berkaca diri, menemukan apa – apa yang keliru dan memperbaikinya, tentu tidaklah mudah , tapi marilah kita berusaha dan mencoba, semoga usaha kita para orang tua bisa merubah anak kita dengan memiliki rasa percaya diri, lebih kreatif ,sensitif ,mandiri, bertanggung jawab dan yang terpenting adalah kebagiaan anak kita sehingga saat dewasa mereka dapat menjadi orang yang mandiri yang juga dapat menularkan kebahagiaan kepada orang lain.

(Lisnawati)

 
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *