Tanaman Temulawak untuk Obat Sakit Hati

By | December 1, 2016

Temulawak merupakan salah satu jenis tumbuhan dari keluarga Zingiberaceae. Temulawak termasuk jenis tanaman obat (tumbuhan herba) yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya mencapai 2 m. Daunnya lebar dan pada setiap helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang agak panjang. Temulawak memiliki Bungan yang bentuknya unik (bergerombol) dan warnanya kuning tua. Rimpang tanaman temulawak sudah lama dikenal bahan ramuan obat yang biasa digunakan sebagai ramuan herbal tradisional Indonesia. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adlaah berbau tajam dan daging buahnya berwarna kekuning-kuningan. Daerah tumbuh temulawak ini ialah pada dataran rendah serta dapat tumbuh dengan sampai ketinggian tanah 1500 m dpl. Temulawak dapat digunakan sebagai obat dalam bentuk tunggal maupun campuran, yaitu sebagai hepatoproteksi, anti inflamasi, anti kanker, anti diabetes, anti mikroba, antihiperlipidemia (senyawa yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar lipid dalam darah) dan dapat mencegah penyakit kolera.

 

tanaman obat-temu-lawak

 

Sejak zaman nenek moyang, temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh pelawan sebah perut alias penyakit kuning (hepatitis) . Tapi adakah hubungan temulawak sebagai penyembuh penyakit kuning ini ? Sampai saat ini masih belum dapat dijawab secara tuntas. Tanpa bermaksud berprestensi menjawab pertanyaan di atas pertamakali.com mengutip salah satu kisah yang diambil dari majalah intisari cetakan September 1996 yang merupakan pengalaman dr. Melly Budhiman, seorang psikiater, yang dinyatakan sembuh dari penyakit sirosis hati setelah rutin minum sari temulawak, yang mungkin bisa jadi bahan rujukan.

Cerita ini dipersingkat dari cerita aslinya :

Beberapa bulan setelah mendapat brevet spesialisasi dalam ilmu psikiatri tahun 1969, saya beruntung mendapat tugas belajar di AS. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan tersebut saya menyiapkan diri. Selain paspor dinas diperlukan juga kartu bukti imunisasi warna kuning. Saat itu setiap orang yang hendak berangkat ke luar negeri wajib mendapatkan imunisasi TCD dan cacar.

Pelaksanaan imunisasi saya dapatkan dari kantor DKK Jakarta. Sata tahu persis, jarum suntik yang digunakan berupa jarum bekas yang hanya disterilkan dengan direbus. Kalau itu jarum suntik sekali pakai belum lazim digunakan karena biayanya mahal. Rupanya jarum inilah yang menjadi awal malapetaka penyakit yang bertahun-tahun kemudian mendera hidup saya.

Berangkat April 1969, di AS saya memperdalam ilmu sambil bekerja. Di tempat inilah babak kehidupan kesehatan saya dimulai. Baru setengah bulan berada di AS, ada sesuatu yang kurang beres pada diri saya. Cepat lelah, nafsu makan menurun drastic, kadang sampai muntah-muntah. Warna putih bola mata saya berangsur-angsur menjadi kekuningan. Dari hasil pemeriksaan saya dinyatakan virus hepatitis B. Kemungkinan besar akibat jarum suntik yang tercemar virus tadi. Virus ini memang tidak mati walaupun direbus. Dokter menganjurkan saya beristirahat di rumah.

Selang 4 minggu, saya merasa sembuh,dan dapat izin dokter untuk kembali bekerja. Meskipun hasil tes dari laboratorium masih menunjukkan kondisi belum 100% normal. Bilirubin total masih 1,5 mg% (normalnya di bawah 1mg%). Berhubung berbagai kesibukan saya tidak memperdulikan lagi penyakit ini.

Bahkan saya aktif olahraga, piknik, banyak jalan pagi, sampai suatu pagi 6 bulan kemudian, saya merasa sangat letih. Buru-buru saya periksakan darah kembali. Hasilnya bilirubin naik sampai 3 mg%. Langsung saya dirawat di RS selama 5 hari. Pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsi menyimpulkan saya menderita hepatitis kronis aktif. Anehnya dokter tidak melarang saya bekerja atau pantang makanan tertentu. Satu-satunya obat yang diberikan kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4×10 mg. Ironisnya pemerikaan fungsi hati yang dilakukan setiap minggu setelah itu menunjukkan hasil buruk.

Ketika tugas belajar selesai pada tahun 1970 dan kembali ke Jakarta, baru saya sadari bahwa tubuh saya mengalami bengkak akibat efek samping obat yang saya minum. Hasil pemeriksaan RSCM-FKUI oleh dokter yang memeriksa kembali penyakit saya dan meneliti hasil biopsy dari AS menarik kesimpulan bahwa saya menderita sirosis hepatitis.

Obat kortikosteroid dihentikan dan sebagai gantinya saya dberikan beberapa jenis vitamin.

Setelah tiga bulan dirawat, fungsi hati saya berangsur membaik dan 100% normal. Namun tubuh saya tetap tidak dapat membuat antibody terhadap virus hepatitis, sehingga hasil pemeriksaan lab pemeriksaan HBs Ag masih positif, sedangkan pemeriksaan anti-HBs negatif.

Menurut dr. Pang, pemeriksaan lab darah saja tidaklah cukup untuk mengetahui apakah sel-sel hati sudah benar-benar pulih. Pemeriksaan biosilah yang dapat menjawab kesembuhan. Selama satu tahun saya dianjurkan untuk mengatur makanan yang sehat dan beristirahat sebanyak mungkin dalam posisi tidur. Menurut hapatolog ini, faal hati paling lancar kerjanya saat tubuh dalam posisi tidur. Kerusakan hati bisa terhenti, kemudian sel-sel hati yang normal dapat bekerja memenuhi kebutuhan tubuh.

Singkat cerita dalam 3 bulan saya rutin memeriksakan diri dan menjalani pemeriksaan biopsi ulang. Setelah satu tahun istirahat, saya kembali bekerja seperti biasa.

Tahun 1977 setelah menyelesaikan satu pekerjaan persiapan forum yang cukup melelahkan, penyakit ini kambuh lagi. Setelah dicek kembali memalui pemerikasaan biopsy hasilnya, sirosis hari kambuh kembali ! Artinya harus kembali menjalani istirahat total selama tiga bulan di rumah. Namun setelah tiga bulan dilakukan pengecekan ulang ternyata masih belum pulih dan kembali dilakukan sampai 9 bulan telah dilakukan 3 kali pemeriksaan biopsi.

Kenal Temulawak

Suatu hari secara kebetulan saya membaca satu artikel di sebuah majalan tentang pengalaman seorang ibu yang menderita bercak-bercak hitam pada kulit mukanya. Berkat minum rebusan temulawak dua kali sehari, bercak-bercaknya hilang. Tertarik dengan artikel tersebut saya menyuruh pembantu untuk membelikan temulawak di pasar. Maklum, saya juga memiliki kelainan bercak-bercak yang sama. Saya minum secara teratur dua kali sehari selama tiga bulan. Untuk menghilangkan rasa dan bau yang kurang sedap ditambah jahe dan gula jawa.

Almarhum, ayah, yang saat itu berdomisili di Bandung, juga berusaha membelikan temulawak kering. Ketika itu penjual menanyakan apakah akan digunakan untuk mengobati penyakit lever. Menurut sang penjual, seorang dokter ahli penyakit dalam di Bandung sering menganjurkan para pasiennya agar rajin menum rebusan temulawak. Malah banyak pasiennya sembuh berkat khasiat temulawak ini. Mendengar berita ini, ayah saya bertambah rajin minum temulawak.

Ketika saya harus kembali mendapatkan biopsi ulang tahun 1978, hasilnya sungguh menggembirakan. Dr. Sadikin Darmawan,  seorang patolog senior yang memeriksa hasil biopsi tadi mengacungkan jempol pada saya. Ia mangakatan hasil biopsi kali ini sangat berbeda. Kindisi hati saya sehat. Dr. Sadikin pun heran sampai meragukan kalau hasil tersebut tertuka dengan orang lain. Karena itu dilakukan biopsy ulang selang satu bulan.

Hasilnya ternyata sama. Sel-sel saya mengalamiperbaikan ! Saat itu pikiran sata langsung teringat pada minuman sari temulawak yang sudah saya minum selama empat bulan. Mungkinkah temulawak penyembuhnya ? Selama beberapa tahun saya tetap rajin minum rebusan temulawak, dan sejak saat itu pun penyakit saya tidak pernah kambuh, meskipun kerja saya tidak kalah keras dibandingkan dengan sebelumnya. Malah saya mulai melakukan aktifitas olahraga kembali golf dan aerobik.

Ketika tahun 1989 saya lakukan kembali pemeriksaan dengan biopsi hati, ternyata hati saya tetap sehat. Selama sakit, saya memang selalu berusaha memenuhi nasehat dokter : memeriksa diri secara teratur, makan makanan sehat, cukup beristirahat dan optimis.

Namun timbul kembali pertanyaan pada diri saya, benarkah berkat temulawak saya sembuh dari penyakit yang ganas ini ? Zat apakah yang terkandung dalam temulawak ? Lalu bagaimanakah efeh penyembuhannya ? Bagaimana cara meramu temulawak agar efektif ? Saya memang pernah mendengar adanya penelitian efak temualwak terhadap hati mencit yang hasil nya sangat positif. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah efeknya sama pada hati manusia ?

Memang zat kurkumin atau Hidroksi-metoksifenil-heptadenadion, diketahui bersifat antibakteri. Sehingga kelak zat kurkumin pada temulawak secara uji klinis terbukti bisa mengobati hepatitis pada manusia, akan merupakan anugerah.

 
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *