Bahaya Makanan Olahan Tepung Terigu bagi Kesehatan

By | July 30, 2016

tepung-terigu

Makanan olahan tepung terigu banyak kita jumpai di sekitar kita. Bahkan banyak orang Indonesia yang secara tidak sadar telah mengkonsumsi makanan olahan tepung ini setiap harinya. Makanan seperti mie, kue, roti, dsb sepertinya sudah akrab dengan kehidupan kita, walaupun sebenarnya makanan olahan terigu bukan berasal dari Indonesia.

Taukah Anda bahwa di dalam makanan olahan tepung terigu terdapat protein khusus yang disebut gluten. Berbeda dengan makanan serealia (padi-padian lain non-gluten, jagung, beras), makanan olahan tepung terigu baru bisa dicerna tubuh selama 3 x 24 jam. Padahal makanan yang sehat harus meninggalkan tubuh (usus besar) setidaknya dalam 24 jam. Akibatnya sampah gluten akan diserap lagi oleh tubuh. Hal ini akan menghalangi penyerapan nutrisi. Belum lagi pemakaian pemutih untuk tepung terigu yang tentunya bila dikonsumsi terus menerus dalam kurun waktu yang lama, akan merugikan kesehatan.

Lalu apa saja efek buruk yang dibawa oleh tepung terigu ini? Sebuah riset menyatakan bahwa kelebihan glutten dapat mengakibatkan autisme dan hiperaktif pada anak. Apabila gluten dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang maka dapat brakibat buruk untuk pencernaan. Terlalu banyak gluten dalam pencernaan pada akhirnya akan memicu timbulnya kanker usus besar, GERD, sembelit, dll. Alergi gluten dapat dideteksi melalui tes alergi, namun sensitivitas terhadap gluten sulit dideteksi dengan pemeriksaan biasa.

Semua bahan makanan olahan gandum mengandung zat reaktif yang disebut gluten. Gluten adalah suatu protein, zat  ini berbentuk mirip lem yang menyatukan bulir-bulir gandum dan padi-padian tertentu. Sensitivitas gluten dapat muncul sebagai gejala ringan seperti kembung/ rasa tidak enak di perut, dan pilek, hingga gejala berat seperti sindrom iritasi usus, migrain, sakit kepala, nyeri sendi dan nyeri otot, eksem, asma, dan gangguan suasana hati. Mungkin juga timbul gangguan pencernaan yang serius, antara lain penyakit celiac sprue. Pada celiac sprue, vilus (jonjot) usus halus rusak, sehingga mengakibatkan gangguan besar pada penyerapan nutrisi. Hal ini menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh, penurunan berat badan, diare, lesu kronis.

Untuk penyuka makanan berbahan utama terigu (mi, pasta, roti, bakpau, donat, cake, dll), ganti sebagian terigu dengan bahan non-terigu. Campuran pengganti terigu seperti tepung beras putih/merah/hitam, tepung ketan putih/hitam (penelitian menyebutkan bahwa tepung ketan masih mengandung gluten dalam jumlah terbatas), tepung kentang, tepung singkong, tepung jagung, tepung kacang merah/kacang tolo/kacang hijau/kedelai.

Sebisa mungkin singkirkan tepung terigu dalam pembuatan makanan. Misalnya, gunakan tepung beras untuk makanan gorengan (adonan pelapis pisang/ubi/tempe goreng, dll). Agar adonan tepung beras menjadi lebih renyah setelah digoreng, tambahkan “bahan pelembut” alami ke dalam adonan, a.l. santan, kuning telur.

Saatnya untuk mandiri dan mengambil keputusan bagi kesehatan diri sendiri. Sudah siapkah kita jika industri produk makanan berbahan utama terigu, atau para pakar kuliner terus mendikte kita supaya makan lebih banyak makanan berbahan dasar terigu dan/atau mengolah terigu? Semuanya terpulang kepada kita masing-masing.

Semoga tips kesehatan di atas dapat berguna bagi Anda..

(Marthika)

 
Share

One thought on “Bahaya Makanan Olahan Tepung Terigu bagi Kesehatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *